Tekan Enter untuk mencari

Video Bupati Kukar Tebar Padi di Danau Semayang Viral, Ternyata Kearifan Lokal Warga

Foto: Momen saat Bupati Aulia menebar benih padi di Danau Semayang.

Akupedia.id, Tenggarong – Video Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, menebar benih padi langsung ke kawasan Danau Semayang, Kecamatan Kenohan pada Selasa, 1 September 2026 lalu ramai diperbincangkan di media sosial.

Cara tersebut terlihat tak lazim karena benih tidak ditanam di lahan kering, melainkan ditebar pada kawasan danau yang masih memiliki genangan air.

Namun, bagi masyarakat sekitar Danau Semayang, cara tersebut bukan sesuatu yang baru. Tetapu justru menjadi kearifan lokal yang dimanfaatkan untuk menjaga ketahanan pangan, terutama ketika kemarau membuat aktivitas masyarakat sebagai nelayan ikut terdampak.

Aulia menjelaskan, pemerintah awalnya menerima permohonan masyarakat di kawasan Danau Semayang untuk mendapatkan tambahan bantuan benih padi. Pemkab kemudian menyalurkan 500 kilogram benih tahap pertama yang telah ditebar dan kini mulai menunjukkan hasil.

“Memang kalau orang dari luar itu melihat bahwa ini seperti kita buang-buang padi. Akan tetapi fakta di lapangan dengan kearifan lokal seperti itu memang itulah yang terjadi di sana,” kata Aulia, Jumat (11/9/2026).

Karena masih terdapat lahan yang dapat dimanfaatkan, masyarakat kembali mengajukan tambahan benih. Pemkab kemudian menambah bantuan hingga total benih yang ditebar mencapai sekitar satu ton.

Aulia bahkan turun langsung ke lapangan bersama Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) serta jajaran Dinas Pertanian untuk melihat sekaligus mengikuti cara masyarakat menanam padi.

Menurutnya, metode tersebut memang terlihat seperti menaburkan benih ke sungai. Namun, kondisi Danau Semayang berbeda karena airnya tidak mengalir seperti sungai. Air relatif statis dan kemudian perlahan menyusut, sehingga benih yang ditebar dapat mengikuti kondisi lahan.

“Metodenya sangat unik, seolah-olah kita seperti menabur padi di sungai. Akan tetapi itulah metode yang digunakan oleh masyarakat yang ada di sana,” ujarnya.

Aulia mengatakan, hasil penebaran tahap awal yang dilakukan masyarakat sekitar setengah bulan yang lalu juga telah membuat pemerintah semakin yakin untuk mendukung pola pertanian tersebut. Benih sebanyak 500 kilogram yang ditebar sebelumnya kini telah tumbuh di kawasan danau.

Ia menyebut, masyarakat Semayang yang sebelumnya mayoritas menggantungkan hidup sebagai nelayan kini sekitar 90 persen beralih sementara ke sektor pertanian dengan memanfaatkan kondisi alam saat air danau menyusut.

“90 persen warga masyarakat Semayang yang dulunya itu adalah nelayan, ini 90 persen sekarang itu bertani. Memanfaatkan kondisi alam,” katanya.

Menurut Aulia, pola tersebut menarik karena tidak membutuhkan pengolahan lahan maupun perlakuan khusus seperti pertanian pada umumnya. Masyarakat cukup menebar benih pada lokasi yang sesuai, kemudian menunggu hingga tanaman tumbuh dan dapat dipanen.

Pemkab Kukar kini juga menaruh perhatian terhadap potensi serangan hama. Dinas Pertanian bersama BRMP direncanakan kembali turun ke lapangan untuk mengidentifikasi jenis hama yang menyerang tanaman padi di kawasan tersebut sekaligus membantu pengendaliannya.

Aulia menjelaskan, berdasarkan laporan yang diterimanya, tanaman padi yang masih berada di kawasan dengan genangan air relatif aman. Persoalan justru muncul ketika lahan mulai mengering karena terdapat hama yang berpotensi merusak tanaman.

“Ini nanti dari Dinas Pertanian kami dengan BRMP akan turun ke sana membantu warga masyarakat mengidentifikasi hamanya dan memberikan penanganan-penanganan sehingga tidak terjadi gagal panen,” jelasnya.

Bagi Pemkab Kukar, pemanfaatan Danau Semayang bukan sekadar eksperimen pertanian. Cara tersebut menjadi salah satu alternatif untuk menjaga ketersediaan pangan daerah ketika kemarau panjang membatasi sumber penghasilan masyarakat.

Aulia menyebut, pemerintah bahkan telah menerima permohonan serupa dari masyarakat Desa Melintang yang ingin memanfaatkan kondisi lahan akibat surutnya air untuk menanam padi.

Namun, peluang tersebut tidak muncul setiap tahun. Berdasarkan pengalaman masyarakat, kondisi Danau Semayang yang memungkinkan untuk ditanami padi seperti saat ini terjadi dalam siklus sekitar satu dekade. Penanaman serupa terakhir kali dilakukan masyarakat sekitar 2016–2017.

“Bagi kami ini adalah sesuatu yang sudah berhasil dilakukan oleh warga masyarakat di sana. Ini kearifan lokal masyarakat di sana. Dan tugas kami sebagai pemerintah adalah men-support apa yang dilakukan oleh warga masyarakat yang ada di sana,” tegas Aulia.

Dengan adanya pola pertanian tersebut, pemerintah berharap produksi pangan Kukar tetap terjaga selama kemarau. Aulia pun menyebut masih ingin kembali melihat perkembangan tanaman padi yang sebelumnya ditebar untuk memastikan hasilnya hingga masa panen.

“Kita doakan saja semoga ini bisa tumbuh dengan baik dan warga masyarakat Semayang bisa panen dengan baik,” pungkasnya.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini