Akupedia.id, Tenggarong – Kecelakaan laut menimpa KM Virgo Transport 8 saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/9/2026) dini hari. Kapal yang membawa 243 orang tersebut dilaporkan mengalami kondisi cuaca buruk sebelum kehilangan kontak sekitar pukul 02.00 WITA di perairan Masalembo, Laut Jawa.
Kapal sebelumnya dilaporkan mengalami kemiringan atau listing hingga akhirnya terbalik dan tenggelam.
Berdasarkan data sementara, tim SAR gabungan telah mengevakuasi 103 orang, dengan satu orang dinyatakan meninggal dunia. Sementara itu, proses pencarian terhadap penumpang dan kru lainnya masih berlangsung.
Insiden tersebut terjadi saat kondisi laut cukup berat. Informasi dari tim SAR di lokasi menyebut angin berada pada kisaran 10 hingga 12 knot, sedangkan tinggi gelombang mencapai 1,5 hingga 2,5 meter. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan dalam proses pencarian dan pertolongan korban.
Merespons kejadian tersebut, Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Balikpapan turut mengerahkan armada untuk mendukung operasi SAR.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Balikpapan, Dody Setiawan, mengatakan pihaknya mengirim satu tim rescue menggunakan Kapal Negara (KN) SAR Wisanggeni.
“Basarnas Balikpapan mengirimkan satu tim rescue dengan menggunakan kapal KN SAR Wisanggeni, panjang 40 meter, yang bergerak dari Dermaga Somber Balikpapan pada pukul 14.40 WITA,” kata Dody saat dikonfirmasi, Minggu (13/9/2026).
KN SAR Wisanggeni membawa total 29 personel yang terdiri dari 15 anak buah kapal (ABK), 10 rescuer, dan empat personel potensi SAR.
Armada tersebut harus menempuh perjalanan sekitar 290 nautical mile atau mil laut menuju lokasi kejadian. Dengan kondisi pelayaran saat ini, perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 21 jam.
Untuk menunjang operasi pencarian, tim membawa sejumlah peralatan khusus, termasuk peralatan selam dan drone thermal. Selain itu, personel rescuer yang diberangkatkan juga memiliki kualifikasi sebagai penyelam.
“Rescuer juga didukung dengan peralatan selam, kemudian drone thermal untuk mendukung pencarian serta rescuer yang memiliki kualifikasi sebagai penyelam,” ujarnya.
Dody mengatakan, meski kondisi gelombang cukup tinggi, pencarian masih memungkinkan dilakukan menggunakan armada SAR. KN SAR Wisanggeni memiliki kecepatan rata-rata 14 hingga 15 knot.
“Untuk pencarian dengan kapal Basarnas saat ini dengan kecepatan rata-rata 14 sampai dengan 15 knot harusnya masih memungkinkan untuk melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadiannya,” jelasnya.
Terkait durasi pengerahan tim, Dody menegaskan operasi SAR akan menyesuaikan situasi dan perkembangan di lapangan.
Secara ketentuan, operasi pencarian dapat berlangsung hingga tujuh hari, namun evaluasi tetap dilakukan berdasarkan kondisi operasi.
“Untuk saat ini, Wisanggeni Balikpapan siap melaksanakan operasi SAR satu minggu atau tujuh hari ke depan,” pungkasnya.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





