Akupedia.id, Tenggarong – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) menyambut baik hadirnya lumbung pangan berupa pengolahan padi atau rice milling milik Desa Sungai Payang, Kecamatan Loa Kulu. Fasilitas ini dinilai mampu mendukung ketahanan pangan sekaligus menekan harga beras di tingkat masyarakat.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengatakan bahwa fasilitas tersebut dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah desa, PT Multi Harapan Utama (MHU), dan pemerintah daerah.
Keberadaan rice milling ini memungkinkan gabah hasil panen petani diolah langsung menjadi beras di desa setempat sehingga lebih efisien dibanding harus menggunakan jasa penggilingan di luar wilayah. Selain itu masyarakat juga diharapkan dapat memperoleh beras dengan harga yang terjangkau.
“Kalau harga gabah sekitar Rp6.500 per kilogram dan biaya penggilingan sekitar Rp800, maka harga beras yang dihasilkan bisa jauh lebih terjangkau. Harapannya masyarakat dapat memperoleh beras dengan harga tidak lebih dari Rp10.000 per kilogram,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Aulia menilai, fasilitas tersebut juga akan sangat membantu menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat, khususnya di wilayah Loa Kulu dan sekitarnya.
Selain itu, Desa Sungai Payang saat ini memiliki sekitar 160 hektare lahan sawah aktif yang dikelola oleh kelompok-kelompok tani setempat. Untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian, pemerintah daerah juga berkomitmen membantu memenuhi kebutuhan alat dan mesin pertanian yang masih diperlukan petani.
“Kami berjanji akan berupaya memenuhi kebutuhan peralatan pertanian yang diperlukan sehingga proses optimalisasi lahan melalui ekstensifikasi pertanian dapat berjalan lebih baik,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, Aulia juga diperkenalkan dengan pengembangan tanaman sorghum atau yang dikenal masyarakat Kutai sebagai jelai. Tanaman ini dinilai memiliki potensi sebagai alternatif pangan pengganti beras karena kandungan seratnya yang tinggi dan nilai ekonominya yang cukup menjanjikan.
Meski produktivitas sorghum hanya sekitar satu ton per hektare, lebih rendah dibanding padi yang dapat menghasilkan 3,5 hingga 5 ton per hektare, Aulia menilai tanaman tersebut tetap memiliki prospek yang baik karena harga jualnya relatif lebih tinggi.
“Kita berharap sorghum dapat terus dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat sehingga bisa menjadi salah satu pilihan pangan pengganti nasi,” tuturnya.
Aulia pun berharap, pengembangan komoditas alternatif seperti sorghum menjadi bagian dari upaya diversifikasi pangan yang dapat memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





