Tekan Enter untuk mencari

Saat Keresahan Menemukan Rumah di Genta Aksara

Foto: Penampilan drama teatrikal dari Terminal Olah Seni.

Akupedia.id, Tenggarong – Malam mulai turun di kawasan Jam Bentong, Tenggarong. Di bawah cahaya lampu yang temaram, satu per satu anak muda berdiri di depan mikrofon. Tidak ada sorak-sorai layaknya konser. Yang terdengar justru suara lirih pembacaan puisi, monolog yang menggetarkan, petikan gitar akustik, hingga kalimat-kalimat jujur yang selama ini mungkin terlalu berat untuk diucapkan.

Di antara keramaian itu, tak sedikit yang memilih diam. Mendengarkan. Sebab malam itu, bukan tentang siapa yang paling pandai berbicara, melainkan tentang memberi ruang bagi siapa saja yang ingin didengar.

Begitulah suasana Genta Aksara, sebuah ruang ekspresi yang diinisiasi komunitas literasi Pixelarasi bersama Muda Sinergi di kawasan Jam Bentong, Sabtu (27/6/2026).

Mengusung tema “Mungkin, Kita Hanya Ingin Didengar”, kegiatan ini lahir dari kegelisahan yang sederhana: banyak orang memiliki cerita, tetapi tidak semua memiliki tempat untuk menyampaikannya.

Sepanjang acara, berbagai bentuk seni dipentaskan. Pembacaan puisi menjadi pembuka, disusul monolog dan drama teatrikal yang menggambarkan keresahan anak muda tentang kehidupan, keluarga, hingga kesehatan mental. Penampilan musik akustik menghadirkan jeda yang menenangkan, sementara sesi Panggung Keresahan menjadi momen paling personal.

Di sesi itu, mikrofon tidak hanya menjadi milik para penampil. Siapa pun yang hadir dipersilakan maju, menyampaikan cerita, keresahan, atau sekadar mengucapkan hal-hal yang selama ini hanya disimpan dalam hati.

Ada yang berbicara dengan suara bergetar. Ada pula yang memilih membacakan tulisan yang telah lama tersimpan di buku catatan. Beberapa peserta bahkan tak mampu menahan air mata ketika menceritakan pengalaman mereka.

Namun tak ada cibiran. Yang hadir justru tepuk tangan, pelukan, dan tatapan yang seolah berkata, “Kamu tidak sendiri, karena kami merasakan yang sama”.

Founder Pixelarasi, Alfiah Nur Azmi, mengatakan Genta Aksara memang tidak sekadar dirancang sebagai panggung seni. Lebih dari itu, kegiatan ini ingin menjadi ruang aman bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk menyampaikan apa yang selama ini dipendam.

“Genta Aksara kami hadirkan sebagai ruang bagi masyarakat, terutama anak muda, untuk menyampaikan apa yang selama ini dipendam,” ujarnya.

Nama Genta Aksara, lanjut Azmi, dimaknai sebagai lonceng yang membangkitkan aksi dan rasa. Sebuah simbol yang mengajak setiap orang untuk berani bersuara, menyampaikan pikiran, keresahan, maupun harapan melalui berbagai bentuk ekspresi.

“Kami ingin setiap orang yang datang merasa memiliki ruang untuk berbicara, berkarya, dan mengekspresikan dirinya tanpa takut dihakimi,” katanya.

Sebagai komunitas yang bergerak di bidang literasi, Pixelarasi selama ini berupaya membangun budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis. Sementara Muda Sinergi menjadi ruang kolaborasi bagi anak muda dalam berbagai kegiatan kreatif. Pertemuan keduanya melahirkan sebuah acara yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menguatkan.

Malam itu pun ditutup dengan prosesi Lilin Harapan. Cahaya lilin-lilin kecil menyala bergantian di tangan para peserta. Dalam hening, masing-masing memanjatkan doa dan harapan, baik untuk dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah lilin. Namun bagi mereka yang hadir, nyala kecil tersebut menjadi simbol bahwa selalu ada harapan, bahkan setelah melewati hari-hari yang paling gelap.

Genta Aksara menjadi kegiatan perdana Pixelarasi sekaligus menandai satu tahun perjalanan komunitas tersebut. Namun bagi para peserta, yang paling berkesan bukanlah seremoni perayaannya.

Yang mereka bawa pulang adalah perasaan bahwa malam itu, untuk sesaat, mereka benar-benar didengar.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini