Akupedia.id, Surabaya – Kondisi cuaca di Laut Jawa saat KM Virgo Transport 8 terbalik pada Minggu (13/9/2026) dini hari dinilai tidak berada dalam kategori ekstrem. Pakar Teknik Pantai Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Eng Kriyo Sambodho, menyebut terdapat sejumlah indikasi anomali teknis sebelum kapal kehilangan kontak.
Kriyo Sambodho atau yang akrab disapa Dhodot mengatakan, berdasarkan data hidrometeorologi dan rekaman navigasi, tinggi gelombang ketika insiden terjadi berada di kisaran 1,6 hingga 2 meter. Sementara kecepatan angin sekitar 20 knot dengan embusan atau gust mencapai 30 knot.
Kondisi tersebut, menurutnya, masih sesuai dengan klasifikasi cuaca yang ditetapkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Kondisi hidrometeorologi pada saat kejadian tidak menunjukkan ekstrem menurut klasifikasi BMKG,” kata Dhodot saat ditemui di ITS Surabaya, Selasa (15/9/2026).
Meski tidak masuk kategori cuaca ekstrem, ia menyebut kondisi laut ketika itu tetap dapat menjadi salah satu faktor pemicu. Sebab, terdapat kondisi laut yang disebut adverse marine conditions, dengan angin tenggara sekitar 20 knot, gust hingga 30 knot, serta tinggi gelombang mencapai 1,9-2 meter.
Menurut Dhodot, posisi dan orientasi kapal terhadap kondisi lingkungan laut juga berpotensi memengaruhi stabilitas kapal.
“Namun menunjukkan adverse marine conditions, berupa angin tenggara sekitar 20 knot, dengan gust hingga 30 knot dan tinggi gelombang 1,9-2,0 m. Orientasi kapal terhadap kondisi lingkungan berpotensi menurunkan stabilitas kapal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gelombang dengan ketinggian sekitar 2 meter dapat berpotensi menyebabkan air laut masuk ke bagian geladak melalui ramp door apabila pintu tersebut tidak tertutup rapat atau tidak dalam kondisi kedap.
Masuknya air ke dalam kapal dapat memengaruhi keseimbangan dan menyebabkan kapal mengalami kemiringan.
“Masih kemungkinan, jadi kapal sudah miring dari awal. Entah karena kargonya yang miring atau bergeser, water ingress (air masuk) yang mengurangi kesetimbangan, kegagalan mesin, atau kombinasi dari semuanya,” jelasnya.
Selain faktor kondisi laut, Dhodot turut menelaah pergerakan KM Virgo Transport 8 berdasarkan rekaman Automatic Identification System of ITS (AISITS).
Dari data tersebut, kapal awalnya tercatat bergerak normal setelah meninggalkan pelabuhan dan melanjutkan perjalanan menuju jalur pelayaran Banjarmasin. Namun, sebelum sinyal berada di luar jangkauan AISITS, terdapat perubahan pada pergerakan kapal.
Dhodot juga meluruskan anggapan bahwa kawasan perairan Masalembu menjadi titik kapal sengaja mematikan atau menghilangkan sinyal.
“Banyak yang mengira di perairan Masalembu sinyalnya sengaja hilang, padahal jangkauan AIS ITS habis di daerah itu karena batas penerimaan transmitter dan responder radio kapal sudah di luar jangkauan (blank spot),” katanya.
Sebelum jangkauan AISITS berakhir sekitar pukul 01.00 WIB, terdapat perubahan signifikan pada data pergerakan kapal. Anomali tersebut terjadi di sekitar koordinat terakhir ketika nakhoda melaporkan kapal mulai mengalami kemiringan pada pukul 00.49 WIB.
Pada waktu tersebut, kecepatan kapal dilaporkan turun drastis hingga sekitar 6 knot. Arah pelayaran juga mengalami perubahan dan kapal keluar dari jalur yang sebelumnya mengarah menuju Banjarmasin.
“Kapal sempat shifting, keluar dari jalur. Kenapa tidak pada jalurnya? Apakah karena mesinnya sudah mati sehingga tidak bisa bermanuver, atau terbawa arus?” ujar Dhodot.
Ia menilai perubahan kecepatan dan arah tersebut menjadi bagian yang perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti kapal mengalami kecelakaan.
KM Virgo Transport 8 sebelumnya dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 02.00 WITA. Kapal tersebut diketahui berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin pada Sabtu (12/9) dengan membawa total 243 orang yang terdiri atas penumpang, awak kapal, dan kru.
Selain manusia, kapal juga mengangkut 89 kendaraan.
Dalam proses pencarian dan evakuasi, sebanyak 108 orang berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Sementara enam orang ditemukan meninggal dunia.
Hingga informasi tersebut disampaikan, sebanyak 129 orang lainnya masih dalam pencarian oleh tim gabungan.
Penyebab pasti terbaliknya KM Virgo Transport 8 masih membutuhkan penyelidikan lebih lanjut dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi kapal, muatan, sistem mesin, navigasi, serta kondisi laut ketika kejadian.
Sumber: CNN Indonesia





