Akupedia.id, Tenggarong – Kemarau panjang di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak hanya berdampak terhadap aktivitas perikanan, tetapi juga memengaruhi habitat satwa di sejumlah wilayah perairan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (SKP) Kukar, Muslik, mengatakan bahwa di wilayah perairan Muara Muntai, salah satu kondisi yang mulai menjadi perhatian adalah meningkatnya kemunculan buaya di sekitar aliran sungai.
Kemunculan buaya tersebut diduga berkaitan dengan kondisi rawa yang mulai mengering. Ketika sumber air di kawasan rawa berkurang, buaya kemudian bergerak menuju sungai untuk mendapatkan sumber air.
“Di daerah Muara Muntai, itu banyak ditemui buaya berjemur di pinggir-pinggir sungai. Karena kan air kan di rawa-rawa kan sudah mengering. Jadi mereka mencari air, otomatis mereka ke sungai,” ujarnya, Rabu (19/8/2026).
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di Sungai Rebak Rinding, yang merupakan penghubung antara Sungai Mahakam dengan Danau Melintang. Di lokasi tersebut, masyarakat melaporkan menemukan beberapa buaya berjemur di pinggir sungai.
Kondisi itu membuat masyarakat khawatir melakukan aktivitas mencari maupun menangkap ikan. Sebab, keberadaan buaya di sekitar lokasi aktivitas nelayan dapat meningkatkan risiko keselamatan.
“Nah ini kan masyarakat khawatir gitu. Khawatir untuk melakukan mencari ikan, menangkap ikan. Karena di pinggir-pinggir itu terdapat buaya,” katanya.
Muslik menjelaskan, DKP Kukar kemudian berkoordinasi dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) untuk memetakan titik-titik kemunculan buaya. Salah satu langkah yang dibahas adalah pemasangan rambu-rambu peringatan di lokasi yang menjadi habitat atau jalur kemunculan satwa tersebut.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan karena buaya merupakan satwa yang dilindungi. Imbauan kepada masyarakat juga perlu dilakukan agar aktivitas mencari ikan tetap memperhatikan faktor keselamatan dan keberadaan satwa liar.
Sementara untuk pesut Mahakam, DKP Kukar menyebut hingga saat ini belum terdapat keluhan terkait dampak kemarau terhadap satwa tersebut. Pemantauan pesut dilakukan bersama BPSPL dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat.
“Sejauh ini belum ada laporan terkait dengan kondisi pesut dengan kemarau panjang. Ini kan karena memang pesut ini kan umumnya di sungai, namun pemantauan tetap kami lakukan dengan pihak dan lembaga terkait,” tutup Muslik.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





