Tekan Enter untuk mencari

Lapas Tenggarong Siapkan SAE Jadi Pusat Edukasi Masyarakat dan Reintegrasi Warga Binaan

Foto: Lomba mancing di SAE Lapas Kelas IIA Tenggarong.

Akupedia.id, Tenggarong – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tenggarong mulai memperkenalkan Sarana Edukasi dan Asimilasi (SAE) Pasarung kepada masyarakat sebagai ruang pembinaan sekaligus wadah edukasi.

Pengenalan tersebut dilakukan melalui lomba memancing dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia (RI) yang digelar di kolam ikan SAE Lapas Tenggarong, Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 25 peserta dari perwakilan Unit Pelaksana Teknis (UPT) pemasyarakatan se-Kalimantan Timur (Kaltim). Para peserta terlihat antusias mengikuti perlombaan dengan membawa perlengkapan memancing masing-masing.

Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, I Wayan Nurasta Wibawa, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan SAE yang nantinya tidak hanya dimanfaatkan oleh warga binaan, tetapi juga masyarakat umum.

SAE disiapkan sebagai tempat bagi warga binaan untuk menjalani kegiatan pembinaan produktif, sekaligus menjadi ruang interaksi dengan masyarakat dalam rangka mendukung proses reintegrasi sosial.

“Kami mulai memperkenalkan bahwa SAE ini tidak hanya dimanfaatkan oleh warga binaan, tapi juga masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan kelurahan setempat agar kawasan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai tempat edukasi bagi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.

Melalui SAE, anak-anak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) nantinya dapat belajar secara langsung mengenai pertanian, perkebunan dan pemeliharaan ikan.

“Anak-anak SD, anak-anak SMP bisa ke sini belajar menanam sayuran, sembari memperkenalkan warga binaan yang mau integrasi ke masyarakat,” katanya.

Menurut Wayan, keberadaan SAE juga menjadi penting untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai proses produksi pangan. Sebab, perkembangan teknologi membuat sebagian anak semakin jauh dari proses bagaimana makanan yang mereka konsumsi sehari-hari dihasilkan.

“Di sini kita coba memberikan wadah kepada mereka untuk mengetahui dan belajar berkaitan dengan pertanian, perkebunan ataupun pemeliharaan ikan,” jelasnya.

Dalam pengelolaannya, berbagai kegiatan di SAE turut melibatkan warga binaan. Saat ini sekitar 35 warga binaan telah dilibatkan dalam tahap awal, mulai dari membersihkan kawasan hingga membangun sarana yang tersedia.

Setelah sarana tersebut semakin berkembang, keterlibatan warga binaan akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bidang, seperti pertanian, perkebunan maupun perikanan.

Selain pertanian dan perikanan, Lapas Tenggarong juga mengembangkan kegiatan peternakan di wilayah Jahab. Salah satunya peternakan ayam petelur dengan lahan berukuran sekitar 8 x 80 meter yang diproyeksikan mampu menampung hingga 8.000 ekor ayam.

Kegiatan tersebut juga akan melibatkan warga binaan sebagai bagian dari pembinaan keterampilan dan persiapan sebelum kembali ke tengah masyarakat.

Wayan juga menegaskan, pembinaan melalui SAE bukan semata-mata untuk memberikan aktivitas kepada warga binaan, tetapi juga membangun kesiapan mereka agar dapat kembali menjalani kehidupan di masyarakat.

“Semua itu untuk integrasi, memperkenalkan bahwa warga binaan ini sebenarnya mampu bersaing dengan masyarakat di luar,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi mantan narapidana ketika kembali ke masyarakat adalah stigma. Karena itu, interaksi antara warga binaan dengan masyarakat diharapkan dapat mengurangi kekhawatiran dan membangun kepercayaan.

“Masyarakat bergabung di sini, jadi kenal. Ternyata mereka ini dibina, tingkat risiko kejahatannya sudah menurun dan mudah-mudahan sudah tidak ada lagi risiko kejahatannya,” katanya.

Untuk hasil pertanian, seperti sayuran, saat ini masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan internal lapas. Hasil panen dijual melalui koperasi dan digunakan untuk kebutuhan dapur.

Ke depan, produksi akan dikembangkan apabila kapasitasnya telah mencukupi kebutuhan internal, sehingga hasil kegiatan pembinaan warga binaan dapat diperluas pemanfaatannya.

Ia berharap pengembangan SAE dapat terus dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, sehingga kawasan tersebut benar-benar menjadi sarana edukasi yang dapat memberikan manfaat bagi warga binaan maupun masyarakat.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini