Akupedia.id, Tenggarong – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) memastikan Festival Erau Adat Kutai 2026 tetap dilaksanakan secara utuh, meski daerah masih berada di tengah tekanan fiskal dan kebijakan efisiensi anggaran.
Hal tersebut disampaikan Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, saat peluncuran atau kick-off Festival Erau Adat Kutai 2026 di Pendopo Odah Etam Tenggarong, Kamis (20/8/2026). Peluncuran ditandai dengan pemukulan gong oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Sultan Aji Muhammad Arifin.
Aulia mengatakan kick-off tersebut menjadi awal dari rangkaian pelaksanaan Erau, mulai dari tahap sosialisasi hingga pelaksanaan kegiatan. Ia berharap seluruh rangkaian Erau tahun ini dapat tetap dilaksanakan tanpa ada bagian yang terpotong.
“Ini rangkaian kegiatannya di kick-off ini sudah mulai dari tahap sosialisasi, terus sampai tahap nanti tahap pelaksanaan. Harapan kami memang Erau tahun ini itu tetap utuh kita laksanakan pelaksanaannya, sehingga tidak ada bagian-bagian yang terpotong,” kata Aulia.
Menurutnya, pelaksanaan Erau tahun ini diharapkan dapat melibatkan lebih banyak masyarakat, termasuk melalui berbagai kegiatan pendukung seperti olahraga tradisional.
“Dan kita berharap kegiatan Erau tahun ini itu bisa lebih banyak lagi melibatkan warga masyarakat, misalnya dari kegiatan olahraga tradisionalnya, kegiatan dan lain-lainnya, tanpa mengurangi nilai kesakralan daripada Erau ini,” ujarnya.
Aulia menegaskan, pelestarian budaya tetap menjadi tanggung jawab bersama meski pemerintah daerah menghadapi tekanan fiskal.
“Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi yang akan melestarikan budaya kita,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar sekaligus juru bicara Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Heriansyah, mengatakan Erau tidak sekadar dimaknai sebagai sebuah pesta budaya. Di dalamnya terdapat hubungan antara Sultan, kerabat, dan masyarakat yang memiliki nilai filosofis untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Erau ini ada yang dieraukan, siapa yang dieraukan itu adalah tokoh, raja, atau sultan. Siapa yang mengeraukan? Yang mengeraukan itu adalah kerabat. Yang erau itu siapa? Seluruh rakyat dan seluruh masyarakat bersukaria,” kata Heriansyah.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut perlu terus disosialisasikan dan ditanamkan kepada generasi muda. Salah satunya melalui prosesi Beluluh yang menjadi bagian awal rangkaian Erau.
“Beluluh itu meluluhkan energi, energi yang negatif membangkitkan energi positif. Bagaimana Sultan itu memimpin dalam kesehariannya, baik itu terkait dengan menjaga budaya dan adat, itu mempunyai energi yang positif,” jelasnya.
Heriansyah menyebut Erau 2026 juga menjadi momentum penting karena masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN). Status tersebut diharapkan dapat memperluas promosi Erau hingga ke tingkat nasional maupun internasional.
“Tentu ini promosinya tidak hanya nasional tapi internasional. Kita berharap juga ada pihak-pihak wisatawan mancanegara yang bisa datang menyaksikan Erau ini,” ujarnya.
Selain wisatawan mancanegara, Kesultanan juga akan mengundang para Sultan dari Nusantara dalam pelaksanaan Erau tahun ini. Heriansyah menyebut pihaknya dalam waktu dekat akan beraudiensi bersama Bupati dan Sultan Kutai dengan Menteri Pariwisata serta Menteri Kebudayaan.
Adapun Erau Adat Kutai 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20-27 September 2026. Sementara 28 September akan dilanjutkan dengan rangkaian peringatan hari jadi Kota Tenggarong ke-242.
Tahun ini, Erau mengangkat tema Raja Menunggal Bersama Rakyat, Raja Menjamu Rakyatnya. Menurut Heriansyah, tema tersebut menggambarkan esensi Erau sebagai momentum pertemuan antara Sultan dengan masyarakat.
“Nah momen Erau ini adalah pertemuan antara raja itu atau sultan itu dengan rakyatnya. Atau sekarang kita sebut dengan sultan dengan masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara,” pungkasnya.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





