Akupedia.id, Tenggarong – Kabut asap mulai muncul di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) seiring kondisi cuaca kering yang berlangsung lebih dari sepekan. Di tengah meningkatnya kebakaran lahan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak paparan asap, debu, dan cuaca panas.
Masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak di luar rumah disarankan mengurangi aktivitas di ruang terbuka. Sementara bagi warga yang tetap harus beraktivitas, penggunaan masker dan perlindungan tubuh dinilai penting untuk mengurangi paparan langsung.
Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinkes Kukar, Budy Setiawan, mengatakan imbauan tersebut terutama ditujukan kepada kelompok yang masih harus beraktivitas di luar rumah, termasuk anak-anak sekolah.
“Untuk masyarakat, terutama untuk anak-anak sekolah yang memang wajib keluar dari rumah, itu usahakan pakai masker. Kemudian pakai jaket ataupun topi untuk melindungi dari serangan panas,” ujar Budy saat dikonfirmasi melalui telepon, Selasa (11/8/2026).
Menurut Budy, penggunaan masker diperlukan untuk membantu mengurangi paparan debu dan asap yang terhirup ketika masyarakat berada di luar ruangan. Sedangkan perlindungan seperti jaket, topi, atau penutup kepala lainnya dibutuhkan untuk mengurangi paparan sinar matahari.
Untuk kelompok pralansia dan lansia, Dinkes Kukar menyarankan agar aktivitas di luar rumah dibatasi apabila tidak memiliki kepentingan yang mendesak.
“Kalau untuk orang lansia ataupun pralansia, kalau memang tidak perlu atau kurang memerlukan waktu untuk di luar rumah, ya sebaiknya stay safe saja di rumah,” katanya.
Selain paparan asap dan panas, masyarakat juga diminta menjaga kecukupan cairan tubuh. Cuaca panas dan kering yang berlangsung cukup lama dapat meningkatkan risiko dehidrasi.
“Jangan sampai kita dehidrasi. Minum cukup, paling tidak 1 sampai 2 liter dalam waktu sehari semalam, minum air putihnya,” ucap Budy.
Dari sisi kesehatan, Budy menyebut paparan asap dalam jumlah banyak tetap memiliki potensi menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan. Keluhan yang dapat muncul di antaranya batuk, sulit menelan hingga radang tenggorokan.
“Tapi kalau dari segi kesehatan, ya semakin banyak asap tentu akan berpotensi untuk menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan atas, seperti batuk, susah menelan, radang tenggorokan, dan sebagainya,” jelasnya.
Namun, untuk menentukan tingkat bahaya kualitas udara secara keseluruhan, Budy mengatakan hal tersebut merupakan kewenangan instansi yang membidangi lingkungan hidup.
“Kalau masalah tentang berbahaya atau tidaknya udara, mungkin domainnya LHK. Dinas Lingkungan Hidup yang menentukan bahaya atau tidak,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi kering di Kukar telah berlangsung cukup lama. Dalam beberapa hari terakhir, belum turun hujan secara berarti dan kondisi tersebut mulai disertai debu serta kabut.
“Iya, sebenarnya sudah wajib menggunakan masker, karena kondisi sudah berhari-hari, mungkin sudah seminggu lebih atau malah 10 hari ke atas kayaknya belum ada hujan. Kemudian mulai berdebu, ada kabut juga,” tegas Budy.
Dinkes Kukar pun meminta masyarakat tidak menunggu sampai mengalami gangguan kesehatan untuk mulai melakukan perlindungan diri. Mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker ketika harus bepergian, mengenakan pakaian pelindung serta mencukupi kebutuhan air putih menjadi langkah yang dianjurkan selama kondisi kering dan kabut asap masih berlangsung.
Kelompok anak-anak, pralansia, dan lansia juga diminta mendapat perhatian lebih karena aktivitas di luar ruangan dapat meningkatkan paparan terhadap asap, debu dan panas.
Dengan kewaspadaan tersebut, masyarakat diharapkan dapat menekan risiko gangguan kesehatan selama kondisi cuaca kering dan kebakaran lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Kukar.
Ara





