Tekan Enter untuk mencari

Petala Borneo Curi Perhatian di IDEF Yogyakarta, Kenalkan Erau Lewat Panggung Internasional

Foto: Petala Borneo saat tampil dalam International Djogja Earthsounds Fest 2026 di ISI Yogyakarta.

Akupedia.id, Tenggarong – Grup musik asal Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Petala Borneo kembali menunjukkan eksistensinya di panggung internasional. Tampil dalam International Djogja Earthsounds Fest (IDEF) 2026 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Kamis (23/7/2026), mereka sukses menghidupkan suasana dan memperkenalkan tradisi Erau kepada penonton dari berbagai daerah hingga mancanegara.

Meski sempat dihantui rasa khawatir akibat cuaca yang kurang bersahabat, semangat para personel bangkit begitu pertunjukan dimulai. Hujan yang sempat membuat penonton berteduh tak menghalangi antusiasme mereka. Bahkan sejak lagu pertama dimainkan, penonton mulai memenuhi area pertunjukan dan ikut bergoyang mengikuti irama musik khas Kalimantan Timur yang dibawakan Petala Borneo.

“Kami sempat cukup down karena cuaca,” ujar personel Petala Borneo, Achmad Fauzi.

Namun kekhawatiran itu tak berlangsung lama. Menurut Fauzi, sambutan penonton menjadi bukti bahwa musik tradisi yang mereka usung mampu diterima dengan hangat.

“Namun, ketika Petala membawa bunyi-bunyian Kalimantan Timur, mereka bisa menari bersama. Itu bentuk apresiasi yang paling tinggi, ketika mereka mau menerima karya dan bunyi-bunyian dari kami,” katanya.

Puncak penampilan Petala Borneo hadir lewat lagu “Menjaga Adat”, karya yang didedikasikan untuk tradisi Erau di Kutai Kartanegara. Di bawah sorotan lampu merah, hijau, dan kuning, dua kata bertuliskan Menjaga Adat terpampang di layar besar belakang panggung.

Saat vokalis Nova Abelia mengangkat tangannya, penonton di barisan depan serempak mengikuti gerakan tersebut, menciptakan momen yang hangat dan penuh makna.

Lagu penutup itu juga menjadi media untuk memperkenalkan Erau kepada publik yang hadir. Dari atas panggung, Nova mengajak penonton datang langsung ke Kutai Kartanegara untuk menyaksikan pesta adat Erau yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.

“Panggung malam ini menjadi salah satu panggung kami menuju Erau. Kami ingin mengabarkan bahwa kami mempunyai sebuah pesta adat dan mengajak teman-teman yang hadir untuk datang ke Erau di Kutai Kartanegara,” tutur Fauzi.

Bagi Nova, tampil sebagai vokalis Petala Borneo di panggung IDEF merupakan pencapaian yang sebelumnya hanya menjadi impian.

“Senang dan benar-benar haru. Ini menjadi mimpi kami. Semoga ini bisa menjadi jembatan dan pintu utama bagi kami menuju panggung dunia,” ucapnya.

IDEF merupakan festival musik internasional lintas tradisi yang mempertemukan musisi, kelompok seni, komunitas, serta institusi pendidikan seni dari berbagai daerah dan negara. Tahun ini, festival berlangsung pada 23–25 Juli 2026 di ISI Yogyakarta dengan mengusung tema Sacred Sounds, Shared Earth.

Bagi Fauzi, penampilan di Yogyakarta bukan sekadar tampil di sebuah festival, melainkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa generasi muda Kutai Kartanegara mampu berkarya dan bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Malam ini kami berhasil menyampaikan bahwa kami ada. Putra-putri Kutai Kartanegara ada, bunyi-bunyian kami ada, dan anak-anak mudanya masih bisa bersaing di kancah nasional, bahkan internasional,” katanya.

Meski telah menorehkan kesan positif di IDEF 2026, Petala Borneo masih menyimpan banyak target ke depan. Fauzi meyakini perjalanan menuju panggung dunia tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses panjang dengan terus berkarya, membangun jejaring, dan memanfaatkan setiap kesempatan tampil.

Penampilan di IDEF menjadi satu langkah penting dalam perjalanan tersebut. Malam itu, Petala Borneo tidak hanya memainkan musik tradisi dari Kutai, tetapi juga berhasil menghadirkan pengalaman budaya yang diterima dan dirayakan bersama para penonton melalui irama, tarian, dan semangat menjaga adat.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini