Tekan Enter untuk mencari

9 Tahun Dipisahkan dari Tanah Kelahirannya, Rita Akhirnya Pulang ke Tenggarong: “Saya Ingin Hidup dan Mati di Sini”

Foto: Kedatangan mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari, di Tenggarong disambut antusias masyarakat.

Akupedia.id, Tenggarong – Malam itu, Tenggarong berubah menjadi seperti kota yang sedang menunggu seseorang yang telah lama pergi.

Jalanan dipenuhi kendaraan, warga berjejer di sepanjang ruas jalan, sebagian mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan momen, sebagian lainnya hanya ingin melihat dari dekat sosok yang selama hampir sembilan tahun tak pernah menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.

Di tengah keramaian itu, Rita Widyasari akhirnya kembali.

Dari kawasan Bundaran Tuah Himba hingga kediamannya di Jalan KH Dewantara, sambutan masyarakat tak pernah surut. Sorak, senyum, dan sapaan hangat mengiringi perjalanan mantan Bupati Kutai Kartanegara tersebut saat memasuki kota yang telah membesarkannya.

Bagi Rita, malam itu bukan sekadar kepulangan biasa. Ada kerinduan panjang yang akhirnya terbayar.

“Nyaris sembilan tahun saya dipisahkan, dan akhirnya malam ini saya bisa pulang ke tanah lahiran saya,” ucapnya dengan suara bergetar.

Kalimat itu seolah menjadi penanda berakhirnya penantian yang panjang. Sebab bagi Rita, Tenggarong bukan hanya tempat tinggal. Kota ini adalah bagian dari dirinya.

“Saya lahir dan dibesarkan di sini. Saya lahir di Jalan Mawar. Saya orang Kutai. Saya ingin hidup, mati pun di sini,” katanya.

Tak sedikit warga yang rela menghentikan kendaraannya hanya untuk menyapa atau berfoto bersama. Anak-anak, remaja hingga orang tua berbaur dalam suasana yang dipenuhi rasa haru.

Yang mereka sambut malam itu bukan seorang pejabat aktif, bukan pula seorang selebritas. Mereka menyambut sosok yang pernah memimpin Kutai Kartanegara selama dua periode dan masih menyisakan jejak kuat dalam ingatan sebagian masyarakat.

Rita mengaku sama sekali tidak menyangka akan mendapat sambutan sebesar itu.

Sepanjang perjalanan dari bandara, ia bahkan memilih tidak membuka telepon genggamnya.

“Waktu saya turun dari pesawat sampai di dalam mobil saya enggak pernah buka handphone. Saya pikir enggak banyak orang. Eh ternyata di Simpang Lembuswana sudah ada anak-anak, ada motor-motor. Katanya naik motor aja. Ya Allah,” tuturnya sambil tersenyum.

Baginya, sambutan tersebut terasa di luar bayangan.

“Alhamdulillah, luar biasa. Sangat luar biasa. Tidak semestinya, tidak terbayangkan,” katanya.

Di tengah euforia penyambutan, pandangan Rita sesekali tertuju ke sudut-sudut kota yang pernah menjadi bagian dari masa kepemimpinannya.

Ia melihat banyak perubahan yang terjadi, sekaligus mengenang berbagai mimpi yang dulu pernah dirancangnya untuk Tenggarong.

Salah satu yang menarik perhatiannya adalah kawasan Pulau Kumala.

“Saya senang melihat Tenggarong sekarang. Cuma Pulau Kumala saja yang masih jadi perhatian. Dulu saya punya cita-cita membuat kawasan seperti itu menjadi tempat orang berkumpul dan bersantai,” ujarnya.

Namun lebih dari sekadar melihat pembangunan, kepulangan itu juga menjadi perjalanan personal yang sarat kenangan.

Rumah masa kecil, jalan-jalan yang pernah dilalui, dan sudut kota yang menyimpan banyak cerita membuat Rita tak bisa menyembunyikan emosinya.

“Aku kan lahir di sini. Sudah lama sekali enggak tinggal di rumah ini. Jadi pengen lihat-lihat lagi, mengenang semuanya,” katanya.

Kepulangan itu tak ingin dihabiskannya dengan agenda-agenda besar. Rita hanya ingin pulang sebagai seorang anak yang lama meninggalkan rumah.

Ia ingin berziarah ke makam ayah, adik, dan kerabat yang telah lebih dulu berpulang, mengunjungi keluarga yang selama bertahun-tahun tak ditemuinya, serta bersilaturahmi dengan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Setelah hampir sembilan tahun terpisah dari tanah kelahirannya, yang ingin dilakukannya kini hanyalah menikmati kembali setiap kenangan yang tersisa di Tenggarong.

Malam semakin larut, tetapi kerumunan warga tak kunjung berkurang. Di antara lampu kendaraan dan riuh suara masyarakat, Rita berdiri menyapa satu per satu warga yang datang.

Sembilan tahun mungkin telah memisahkan dirinya dari Tenggarong. Namun malam itu, kerinduan yang tersimpan selama bertahun-tahun seakan menemukan jalannya pulang.

Dan di kota tempat ia dilahirkan, Rita Widyasari kembali mengucapkan satu kalimat yang paling menggambarkan perasaannya malam itu:

“Saya orang Kutai. Saya ingin hidup dan mati di sini.”

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini