Tekan Enter untuk mencari

Meski ISPA di Kukar Naik 27 Persen, Dinkes Belum Rekomendasikan Sekolah Diliburkan

Foto: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara, Ismi Mufiddah.

Akupedia.id, Tenggarong – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengalami peningkatan di tengah kondisi cuaca panas dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan berdasarkan data hingga 24 Agustus 2026, tercatat sebanyak 3.639 kasus ISPA di seluruh wilayah Kukar.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 27 persen dibandingkan total kasus pada Juli 2026 yang mencapai 2.865 kasus.

“Sekarang sudah 3.639 total se-Kukar kasus ISPA. Peningkatannya dari angka bulan Juli, tapi ini kan Agustus belum selesai, sekitar 27 persen dari 2.865 ke 3.639 per hari ini,” ujar Ismi, Jumat (28/8/2026).

Ia menyebut sejumlah wilayah mengalami peningkatan kasus yang cukup tinggi, di antaranya Tenggarong, Loa Ipuh, Kota Bangun, dan Sebulu. Sementara untuk wilayah pantai, peningkatan cukup terlihat di Samboja, Handil dan Muara Jawa.

Namun demikian, Ismi menilai peningkatan kasus ISPA tersebut belum dapat dikatakan drastis. Berdasarkan grafik perkembangan kasus, peningkatan masih berlangsung secara landai dan tidak menunjukkan lonjakan tajam.

“Kalau kita bilang drastis, kalau kita lihat grafik juga bukan yang meningkat tajam, tapi memang ada peningkatan,” katanya.

Menurutnya, peningkatan kasus ISPA juga belum bisa secara langsung dikaitkan dengan paparan asap karhutla. Kondisi cuaca yang sangat panas dan ekstrem juga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi munculnya keluhan kesehatan masyarakat.

Dinkes Kukar saat ini memantau tiga jenis penyakit yang dinilai berkaitan dengan kondisi cuaca dan lingkungan, yakni ISPA, diare, dan gangguan pada mata. Dari ketiganya, kasus ISPA menjadi yang paling signifikan mengalami peningkatan.

Selain ISPA, kasus diare juga menunjukkan angka yang cukup tinggi. Pada Juli 2026, tercatat sebanyak 724 kasus diare, sementara berdasarkan data per 24 Agustus jumlahnya telah mencapai sekitar 1.800 kasus.

Terkait kondisi udara dan aktivitas belajar di sekolah, Ismi menegaskan Dinkes bukan instansi yang memiliki kewenangan untuk menentukan kualitas udara. Pengukuran kualitas udara menjadi kewenangan perangkat daerah terkait yang memiliki alat ukur khusus.

Karena itu, Dinkes belum memberikan rekomendasi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar untuk melakukan perubahan terhadap operasional sekolah, termasuk meliburkan siswa.

“Sementara ini belum. Tapi mungkin kalau memang kita lihat kasusnya sangat-sangat signifikan,” ujarnya.

Menurut Ismi, hingga saat ini peningkatan kasus ISPA masih tergolong landai sehingga belum menjadi dasar bagi Dinkes untuk memberikan rekomendasi perubahan kegiatan belajar mengajar.

Meski terdapat sejumlah wilayah dengan kondisi kabut asap yang cukup tebal, seperti Pendingin di Sanga-Sanga, Muara Badak dan Samboja, angka kasus di wilayah tersebut belum menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.

Ia mengatakan koordinasi antara Dinkes dan Disdikbud dapat dilakukan apabila kondisi kesehatan masyarakat semakin memburuk atau terjadi peningkatan kasus yang signifikan.

Di sisi lain, Dinkes memastikan fasilitas pelayanan kesehatan di Kukar telah menyiapkan obat-obatan untuk menghadapi peningkatan kunjungan masyarakat akibat kondisi cuaca ekstrem dan kabut asap.

“Sudah, semua sudah ready, obat dan masker ada di faskes,” ungkap Ismi.

Namun, masker yang tersedia di fasilitas kesehatan saat ini diprioritaskan bagi petugas. Dinkes belum melakukan pembagian masker secara langsung kepada masyarakat secara luas.

Meski demikian, permintaan dari sejumlah pihak, termasuk Polres Kukar, tetap berupaya dipenuhi dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya akibat kondisi efisiensi anggaran.

Ismi juga menegaskan penyebab ISPA tidak dapat langsung disimpulkan berasal dari paparan asap karhutla. Menurutnya, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui seberapa besar pengaruh asap terhadap peningkatan kasus ISPA di Kukar.

“Penyebab ISPA itu macam-macam. Bisa juga karena kondisi cuaca yang cukup panas, ekstrem. Jadi kalau itu harus diteliti lagi lebih jauh, pengaruh asap terhadap kasus ISPA yang terjadi,” jelasnya.

Meski demikian, Dinkes tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan peningkatan penyakit akibat perubahan cuaca ekstrem dan kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah.

Apabila kondisi kabut asap berlangsung dalam waktu yang lebih lama, Dinkes akan melakukan koordinasi lintas sektor untuk menentukan langkah antisipasi, termasuk kesiapan obat-obatan dan kemungkinan kebutuhan masker bagi masyarakat.

“Kita akan mengkonsultasikan ke lintas sektor terkait hal-hal yang harus diantisipasi kalau terjadi dalam waktu yang lama,” ujarnya.

Ia menambahkan, sejauh ini fasilitas kesehatan di Kukar masih mampu menangani peningkatan jumlah pasien yang datang.

Sementara itu, Ismi mengimbau masyarakat untuk lebih menjaga kesehatan di tengah cuaca panas ekstrem dan potensi karhutla. Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan, terutama saat cuaca sangat panas.

Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat dianjurkan menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari dan mengenakan pakaian yang menutupi tubuh.

Selain itu, masyarakat diminta menjaga kebersihan serta memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi untuk mencegah peningkatan kasus diare.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini