Akupedia.id – Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan, mengungkapkan proses pemulangan jemaah haji Indonesia masih terus berlangsung. Hingga awal Juni 2026, sebanyak 120 kelompok terbang (kloter) telah tiba kembali di Indonesia.
Jumlah tersebut setara dengan 47.012 jemaah atau sekitar 22,77 persen dari total jemaah haji Indonesia yang berangkat pada musim haji tahun ini.
“Proses pemulangan jemaah masih terus berlangsung. Pemulangan melalui Bandara Jeddah dijadwalkan berlangsung hingga 15 Juni 2026, sementara gelombang pemulangan dari Madinah akan dimulai pada 16 Juni dan berakhir pada 30 Juni 2026. Diperkirakan kloter terakhir tiba di Indonesia pada 1 Juli 2026,” ujar Gus Irfan, Senin (8/6/2026).
Meski secara umum penyelenggaraan ibadah haji tahun ini berjalan sesuai rencana, pemerintah tetap mencatat sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian untuk perbaikan layanan pada musim haji mendatang.
Salah satu persoalan yang masih menjadi tantangan utama adalah pelayanan jemaah di Mina. Menurut Gus Irfan, keterbatasan area di Mina yang harus menampung jutaan jemaah dari berbagai negara membuat kepadatan sulit dihindari.
“Sejumlah aspek menjadi perhatian utama. Salah satunya adalah pelayanan di Mina yang dinilai masih menjadi titik paling menantang selama pelaksanaan ibadah haji,” katanya.
Selain itu, ketepatan waktu transportasi jemaah menjelang dan setelah pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) juga menjadi bahan evaluasi. Meskipun secara umum mobilitas jemaah berjalan lancar, pemerintah masih menemukan sejumlah keterlambatan dalam proses perpindahan antar lokasi ibadah.
Gus Irfan juga menyoroti operasional bus shalawat yang selama musim haji dinilai cukup membantu mobilitas jemaah. Namun penghentian sementara layanan tersebut setelah fase Armuzna menyebabkan sebagian jemaah harus menunggu lebih lama untuk menuju Masjidil Haram guna melaksanakan tawaf ifadah.
“Evaluasi lainnya menyangkut operasional bus shalawat yang dinilai cukup baik selama musim haji. Namun, penghentian sementara operasional pasca-Armuzna menyebabkan sebagian jamaah harus menunggu lebih lama untuk menuju Masjidil Haram guna melaksanakan tawaf ifadah,” jelasnya.
Di sektor kesehatan, pemerintah mengakui masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu dibenahi. Meskipun angka kasus kesehatan dan jumlah jemaah yang wafat mengalami penurunan dibanding musim haji sebelumnya, capaian tersebut masih belum memenuhi target yang ditetapkan pemerintah.
Hingga saat ini, tercatat sekitar 240 jemaah haji Indonesia meninggal dunia selama pelaksanaan ibadah haji 2026.
“Angka tersebut lebih baik dibanding tahun sebelumnya, namun masih berada di atas target pemerintah yang menginginkan jumlah kematian berada di kisaran 150 jemaah,” ungkap Gus Irfan.
Pemerintah berharap berbagai catatan evaluasi tersebut dapat menjadi bahan perbaikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, keselamatan, dan kenyamanan jemaah Indonesia pada penyelenggaraan ibadah haji di tahun-tahun mendatang.





