Tekan Enter untuk mencari

Kartini Diperingati, Tapi Perempuan Kaltim Masih Belum Setara

Akupedia.id, Samarinda — Ruang baca di Perpustakaan Kota Samarinda, Sabtu siang, 25 April 2026, tak hanya dipenuhi deretan buku. Sejumlah kursi disusun melingkar, menampung percakapan yang mengalir tentang satu hal: perempuan dan kesetaraan.

Diskusi publik dalam rangka Hari Kartini itu mengusung tema “Perempuan Kaltim Dulu dan Kini: Setara atau Belum?”. Pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi mengandung lapisan persoalan yang belum selesai.

Kegiatan ini digagas bersama oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Samarinda, Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kota Samarinda, Lasaloka-KSB, serta The Femme Lit Society Bookclub. Forum ini menjadi ruang temu lintas generasi, antara pengalaman, ingatan, dan harapan.

Inui Nurhikmah, perwakilan IPI, membuka diskusi dengan menekankan pentingnya literasi. Menurutnya, akses terhadap pengetahuan bukan sekadar soal membaca, melainkan pintu masuk menuju kesadaran.

“Dari pengetahuan, perempuan bisa membangun keberanian untuk berdiri setara,” ujarnya.

Nada serupa muncul dari penulis Inni Indarpuri. Ia menyinggung absennya dokumentasi tentang kiprah perempuan di Kalimantan Timur. Banyak cerita, kata dia, berhenti di ingatan lisan.

“Padahal, mereka punya peran besar. Tapi tidak semua tercatat,” katanya.

Di tengah arus itu, Alisya Anastasya dari The Femme Lit Society membawa perspektif generasi muda. Ia melihat keberanian mulai tumbuh, meski belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang stigma.

“Anak muda sekarang sudah lebih vokal. Tapi ruangnya belum selalu aman,” ucapnya.

Sejarawan publik Muhammad Sarip menambahkan lapisan lain: sejarah. Ia mengingatkan, ketimpangan yang terjadi hari ini tidak lahir dalam ruang hampa.

“Kesetaraan itu tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarahnya. Di situ kita bisa memahami kenapa ketimpangan masih bertahan,” tuturnya.

Sepanjang diskusi, percakapan bergerak dari masa lalu ke masa kini, dari mitos tentang Kartini, ingatan atas perempuan lokal yang terlupakan, hingga persoalan kekerasan berbasis gender yang masih menghantui.

Peserta yang hadir beragam: mahasiswa, guru, penulis, wartawan, hingga ibu rumah tangga. Mereka tak sekadar mendengar, tapi juga terlibat. Pertanyaan demi pertanyaan muncul, memperpanjang dialog yang terasa belum ingin selesai.

Di ujung acara, satu hal mengemuka: kesetaraan belum sepenuhnya tiba. Ia masih menjadi proses panjang, berliku, dan menuntut kesadaran bersama.

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini