Tekan Enter untuk mencari

Antisipasi Resiko Gagal Panen Akibat Kekeringan, Pemkab Kukar Usulkan Rekayasa Cuaca di Sejumlah Sentra Pertanian

Foto: Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri.

Akupedia.id, Tenggarong – Sejumlah sentra pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terancam gagal panen akibat kemarau dan kekeringan yang masih diperkirakan berlanjut hingga Oktober 2026. Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) pun mulai menyiapkan rekayasa cuaca di sejumlah wilayah, termasuk Kukar.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menentukan titik pelaksanaan rekayasa cuaca guna menghadapi kemarau panjang.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengatakan rekayasa cuaca nantinya akan lebih difokuskan pada wilayah yang berkaitan langsung dengan sektor pertanian. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap lahan persawahan dan produksi pangan.

“Memang kemarin laporan dari teman-teman Dinas Pertanian, titik tekan kita sekarang rekayasa cuaca ini berada di titik-titik utamanya yang terkait dengan sektor pertanian,” kata Aulia, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, langkah tersebut perlu dilakukan mengingat berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan baru berpotensi kembali turun pada Oktober 2026. Kondisi tersebut dinilai masih cukup panjang bagi sektor pertanian yang saat ini membutuhkan pasokan air.

“Menurut perkiraan BMKG itu hujan baru akan terjadi di bulan Oktober. Jadi ini masih agak panjang kemaraunya, sehingga diharapkan ada beberapa titik dilakukan rekayasa sehingga hujan lokal itu bisa terwujud,” ujarnya.

Aulia menyebut Pemkab Kukar telah mengirimkan data sejumlah titik yang dinilai membutuhkan dukungan rekayasa cuaca. Sementara sembari menunggu pelaksanaan rekayasa, pemerintah daerah juga melakukan langkah teknis di lapangan dengan mengalirkan air dari sumber terdekat menggunakan pompa dan selang.

Upaya tersebut dilakukan terutama untuk mengairi kawasan irigasi yang telah dibangun agar tetap mampu menyuplai air ke persawahan di sekitarnya.

“Kita tetap upaya di lapangan, utamanya di sektor pangan, di sektor pertanian, kita mengalirkan air-air terdekat dengan bantuan pompa dan selang untuk mengaliri kawasan-kawasan irigasi yang sudah kita bangun,” jelasnya.

Salah satu lokasi yang telah mendapat penanganan berada di Loa Duri Seberang. Di kawasan tersebut terdapat sekitar 25 hektare sawah yang kini sudah dapat dialiri air menggunakan pompa dari Sungai Mahakam.

Selain itu, penanganan juga dilakukan di Kerta Buana dengan mengoperasikan tiga unit pompa untuk mengairi sekitar 209 hektare lahan persawahan.

Aulia mengatakan kondisi lahan di Kertabuana sebelumnya sudah mengalami kekeringan cukup parah hingga tanah persawahan mulai merekah. Namun, setelah mendapat pasokan air, pemerintah optimistis tanaman padi yang telah berusia sekitar dua bulan dapat terus bertahan hingga masa panen.

“Memang tanahnya itu sudah merekah-merekah. Tapi kemarin dengan teraliri air tersebut, kita yakin karena padinya rata-rata umurnya itu sudah dua bulan, butuh waktu sekitar satu bulan sampai satu setengah bulan lagi itu bisa panen,” katanya.

Ia berharap berbagai langkah tersebut dapat menjaga keberlangsungan tanaman padi hingga masa panen, sehingga kemarau panjang tidak sampai mengganggu produksi pangan di Kukar.

“Harapan kita proses penanaman padinya ini tidak terganggu sehingga produksi padi di tempat kita itu juga tidak terganggu,” ucapnya.

Untuk usulan titik rekayasa cuaca, Aulia menyebut beberapa lokasi yang telah diusulkan di antaranya Bukit Biru, Semangkok, Sebulu, dan Tenggarong Seberang.

Sementara terkait informasi adanya titik rekayasa cuaca di Kecamatan Tabang, Aulia mengatakan pihaknya lebih memprioritaskan titik-titik yang memiliki keterkaitan langsung dengan hamparan persawahan dan kebutuhan ketahanan pangan.

“Mungkin itu yang tidak berhubungan dengan ketahanan pangan. Kalau yang di kami itu yang terhubung dengan kondisi hamparan-hamparan sawah yang harus mendapatkan aliran air,” ujarnya.

Meski menyadari pelaksanaan rekayasa cuaca membutuhkan biaya yang tidak sedikit, Aulia berharap semakin banyak wilayah yang dapat dijangkau sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas.

“Kita lebih senang, lebih banyak titik bisa dialiri atau dibikin rekayasa ini kita semakin senang. Karena tentunya kami juga paham bahwa biaya untuk melakukan rekayasa ini tidak murah. Tapi sekali lagi kita paham bahwa mindset pemerintah adalah bagaimana bisa membawa manfaat yang seluas-luasnya untuk kepentingan masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini