Akupedia.id, Tenggarong – Memasuki puncak musim kemarau, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai mewaspadai dampak kesehatan yang ditimbulkan dari kondisi cuaca panas serta potensi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data Dinkes Kukar, hingga 12 Agustus 2026 tercatat sekitar 1.600 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tersebar di sejumlah puskesmas di wilayah Kukar.
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufidah, mengatakan secara umum kasus ISPA di sejumlah wilayah memang menunjukkan peningkatan. Namun, peningkatan tersebut belum tergolong signifikan.
“Jadi saya cek di puskesmas, rata-rata meningkat, meskipun grafiknya tidak langsung meningkat tajam seperti itu. Memang ada peningkatan, hanya satu-dua saja, tidak meningkat signifikan,” ujarnya saat ditemui, Rabu (12/8/2026).
Ismi menyebut, tren peningkatan kasus tersebut sudah terlihat sejak beberapa bulan terakhir. Pada Juni 2026, tercatat sekitar 2.200 kasus ISPA di seluruh Kukar, kemudian meningkat menjadi sekitar 2.600 kasus pada Juli.
Sementara hingga 12 Agustus 2026, jumlah kasus yang tercatat telah mencapai sekitar 1.600 kasus.
“Kalau saya melihat tadi Juni, Juli, Agustus. Kalau data itu tadi, Juni sekitar 2.200, kemudian Juli 2.600, nah sekarang sampai tanggal 12 Agustus sudah ada sekitar 1.600 kasus ISPA. Artinya belum pertengahan bulan sudah angkanya seperti itu,” jelasnya.
Meski demikian, Ismi menegaskan peningkatan kasus tersebut belum dapat secara langsung dikaitkan dengan kabut asap karhutla. Sebab, kondisi asap dari sejumlah titik kebakaran yang terjadi di Kukar dinilai belum terlalu signifikan dirasakan masyarakat.
“Memang sudah mulai kemarau mungkin sejak awal Agustus ini, artinya antisipasi tetap harus dilakukan oleh masyarakat terutama dan juga fasilitas kesehatan. Kalau terkait asapnya mungkin belum terlalu terasa,” katanya.
Menurutnya, selain asap, cuaca panas juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Karena itu, Dinkes Kukar mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat disarankan menggunakan masker untuk menghindari paparan debu, serta kacamata apabila diperlukan untuk melindungi mata.
Masyarakat juga dianjurkan mengenakan pakaian yang menutupi kulit untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari dan tetap menjaga kondisi tubuh.
“Kalau memang tidak perlu keluar rumah, dihindari. Kalau harus keluar rumah, gunakan misalnya masker untuk menghindari debu atau kalau ada asap. Kemudian gunakan kacamata kalau memang diperlukan karena mata juga berpotensi terpapar debu,” tuturnya.
Ismi juga meminta perhatian lebih diberikan kepada kelompok rentan, seperti bayi, balita, lanjut usia, serta masyarakat yang telah memiliki penyakit pernapasan, termasuk asma dan penyakit paru obstruktif lainnya.
“Kelompok-kelompok rentan bagi keluarga yang memiliki kelompok rentan seperti bayi, balita, lansia itu juga dijaga. Dan orang-orang yang memang sudah memiliki penyakit pernapasan, misalnya asma, penyakit paru obstruktif yang lain, tetap jaga kesehatan,” imbuhnya.
Sementara berdasarkan pemantauan Dinkes, peningkatan kasus ISPA terjadi di hampir seluruh wilayah Kukar. Namun, terdapat beberapa puskesmas yang belum menunjukkan peningkatan berarti.
“Puskesmas rata-rata ada peningkatan. Tapi belum yang grafiknya habis begini, begini. Sudah ada peningkatan, rata-rata sudah meningkat. Kemudian hanya sedikit yang belum terjadi peningkatan, di Sungai Merdeka, misalnya Samboja,” ungkapnya.
Untuk wilayah yang berada di kawasan pesisir maupun daerah yang menjadi perhatian akibat potensi karhutla, Ismi mengatakan peningkatan kasus juga ditemukan, meskipun tidak semuanya menunjukkan kondisi yang sama.
“Pesisir ada peningkatan semuanya. Tapi Muara Badak belum ada peningkatan di puskesmas Muara Badak. Kadang-kadang Muara Badak ada dua kasus. Tapi kalau untuk Samboja misalnya ada peningkatan,” pungkasnya.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





