Tekan Enter untuk mencari

Abrasi Mahakam Putuskan Akses Utama Masyarakat Desa Batuq, Jembatan Ambruk Sepanjang 50 Meter

Foto: Kondisi Jembatan yang ambruk di RT 02, Desa Batuq.

Akupedia.id, Tenggarong – Abrasi di bantaran Sungai Mahakam kembali mengakibatkan bencana di wilayah Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Jalan utama sekaligus jembatan penghubung di RT 02, Desa Batuq, ambruk akibat longsor pada Kamis (6/8/2026) sekitar pukul 11.30 WITA.

Peristiwa tersebut menyebabkan akses utama warga terputus total. Beruntung, tidak ada korban jiwa karena pemerintah desa telah menutup jalur tersebut beberapa saat sebelum longsor terjadi setelah melihat kondisi jembatan yang semakin miring.

Kepala Desa Batuq, Suwandi, mengatakan tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa hari terakhir. Bahkan pada Senin lalu pemerintah desa sempat melakukan penanganan sementara dengan menaikkan posisi jembatan yang mulai terdampak abrasi.

Namun upaya tersebut tidak mampu menahan laju gerusan di bantaran Sungai Mahakam.

“Baru saja kejadiannya tadi, kurang lebih setengah 12. Dari dulu jarak sungai dengan jalan itu masih puluhan meter, tetapi karena abrasi yang terus terjadi akhirnya gerusannya sampai ke sisi jembatan,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon.

Ia menjelaskan, pada Rabu malam kondisi jembatan kembali mengalami kemiringan akibat tanah di sisi jalan terus tergerus. Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa langsung mengalihkan arus lalu lintas dan menutup jalur utama.

“Tadi siang sempat miring lagi, kami langsung mengimbau masyarakat dan mengalihkan jalan. Sekitar setengah 12 baru longsor,” katanya.

Akibat kejadian tersebut, sekitar 50 meter badan jalan beserta jembatan ambruk ke Sungai Mahakam, dengan kedalaman 8 meter. Jalur utama yang selama ini digunakan masyarakat pun kini tidak lagi dapat dilalui.

Sebagai langkah darurat, pemerintah desa membuka akses alternatif melalui jalan darat berupa jalan urukan. Meski masih dapat dilewati kendaraan roda dua, warga harus memutar dengan jarak yang lebih jauh.

“Mutarnya itu dari pemukiman kurang lebih 1 km Kurang lebih lima menit lah, soalnya dia mutar aja. Kalau jaraknya dari ujung ke ujung itu kurang lebih 3 km,” terangnya.

Suwandi menilai abrasi yang terjadi selama bertahun-tahun diperparah oleh tingginya aktivitas tongkang yang melintasi Sungai Mahakam. Menurutnya, gelombang dan pergerakan kapal, terutama saat tongkang kandas di alur sungai, mempercepat pengikisan bantaran.

“Sangat berpengaruh, karena tongkang itu sering kandas di sisi Sungai Mahakam. Gerusan dari banyaknya armada yang melintas membuat bantaran sungai semakin terkikis,” ungkapnya.

Lokasi longsor berada tepat di depan permukiman warga. Sedikitnya terdapat enam kepala keluarga tinggal di sekitar titik longsor sehingga pemerintah desa terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi longsor susulan.

“Tidak ada korban jiwa karena sebelum longsor jalannya sudah kami tutup. Di sekitar lokasi ada sekitar enam kepala keluarga,” katanya.

Sementara itu, pemerintah desa mulai berkoordinasi dengan pihak kecamatan terkait penanganan awal. Prioritas saat ini adalah memastikan akses masyarakat tetap tersedia melalui jalur alternatif sebelum dilakukan penanganan permanen.

“Kami sudah berkoordinasi dengan ajudan Pak Camat. Sekarang fokus kami membuat jalan alternatif dulu supaya akses masyarakat tidak terlalu jauh. Untuk laporan selanjutnya akan kami koordinasikan dengan pemerintah daerah,” tutup Suwandi.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini