Akupedia.id, Tenggarong — Sungai Mahakam kembali kehilangan salah satu penghuninya. Lion, seekor Pesut Mahakam jantan yang selama puluhan tahun hidup di aliran sungai Kalimantan Timur (Kaltim) ini ditemukan mati di perairan Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Selasa (5/5/2026).
Kabar itu pertama kali muncul dari media sosial pada Selasa pagi. Informasi tersebut kemudian diteruskan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) kepada Balai Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (BPKKP) Pontianak yang selama ini ikut menangani konservasi Pesut Mahakam.
Tak lama setelah laporan diterima, tim gabungan bersama Pokdarwis Desa Pela bergerak menyusuri perairan hingga akhirnya menemukan tubuh Lion mengapung tidak jauh dari lokasi laporan warga.
“Karena lokasi Pokdarwis Desa Pela paling dekat, mereka yang lebih dulu melakukan evakuasi,” ujar Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, Kamis (7/5/2026).
Tubuh pesut itu kemudian dibawa ke rakit milik Yayasan RASI di Desa Sangkuliman. Di sana, tubuh Lion ditutupi terpal dan diberi es batu untuk memperlambat pembusukan sambil menunggu dokter hewan datang melakukan pemeriksaan.
Sore harinya, proses nekropsi dilakukan. Sejumlah sampel diambil dari tubuh Lion untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium di Samarinda. Hingga kini, penyebab pasti kematiannya masih menunggu hasil pemeriksaan.
“Untuk memastikan penyebab kematiannya, kami masih menunggu hasil laboratorium,” ujar Syarif.
Lion bukan pesut biasa. Menurut data Yayasan RASI, ia telah teridentifikasi sejak tahun 1999. Saat pertama kali ditemukan, usianya diperkirakan sudah cukup dewasa. Itu artinya, Lion kemungkinan telah hidup lebih dari tiga dekade di Sungai Mahakam.
Selama bertahun-tahun, mamalia air tawar langka itu menjadi bagian dari kehidupan sungai yang membelah Kaltim. Kemunculannya kerap dianggap simbol bahwa Mahakam masih memiliki kehidupan yang terjaga.
Kini, kepergian Lion kembali mengingatkan bahwa populasi Pesut Mahakam berada di titik yang rentan.
Data terbaru Yayasan RASI mencatat, sebelum Lion ditemukan mati, jumlah Pesut Mahakam tersisa 66 ekor. Dengan kematian ini, populasinya kini menjadi 65 ekor.
Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada ancaman yang terus mengintai habitat pesut, mulai dari pencemaran sungai hingga praktik penangkapan ikan ilegal.
Syarif mengungkapkan, beberapa kasus kematian pesut sebelumnya bahkan ditemukan berkaitan dengan kandungan racun di tubuh satwa tersebut. Karena itu, pihaknya terus mengingatkan masyarakat untuk menjaga ekosistem Sungai Mahakam.
“Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan illegal fishing seperti meracun atau menyetrum ikan, serta tidak membuang sampah ke sungai,” tegasnya.
Di tengah derasnya aktivitas manusia di Sungai Mahakam, kematian Lion menjadi pengingat bahwa nasib Pesut Mahakam masih bergantung pada seberapa serius lingkungan mereka dijaga.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





