Akupedia.id – Perum Bulog mengonfirmasi aksi penjarahan yang terjadi di Gudang Bulog Sarudik, Sibolga, Sumatera Utara. Penjarahan tersebut dipicu kondisi darurat pangan setelah akses logistik terputus akibat bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah pada 24–25 November 2025.
Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Andi Afdal, menyebut bahwa situasi ekstrem itu membuat masyarakat tidak dapat mengakses bahan pangan selama beberapa hari.
“Kami membenarkan bahwa kejadian tersebut merupakan dampak langsung dari bencana yang memutus akses logistik dan menempatkan masyarakat dalam kondisi darurat pangan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (30/11/2025).
Andi mengimbau seluruh pihak menjaga ketertiban sambil membantu pemulihan situasi pascabencana.
“Semoga situasi ini menjadi pelajaran sekaligus penguatan sistem mitigasi ke depan, agar penanganan bencana dan distribusi bantuan dapat lebih cepat dan tepat sasaran,” tambahnya.
Pemimpin Wilayah Bulog Sumatera Utara, Budi Cahyanto, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, dan berbagai pihak terkait untuk memulihkan jalur distribusi serta memastikan keamanan fasilitas.
“Kami memahami masyarakat sedang berada dalam situasi darurat akibat bencana banjir yang menimbulkan korban jiwa, merusak infrastruktur, dan memutus akses pangan,” ujar Budi.
Hingga kini, petugas Bulog masih melakukan pendataan jumlah beras dan minyak goreng yang diambil massa. Upaya tersebut terkendala oleh gangguan jaringan komunikasi di kawasan terdampak.
“Perhitungan jumlah beras dan minyak goreng yang diambil masih berlangsung. Kami meminta dukungan semua pihak agar penanganan pascainsiden dapat berjalan baik dan tepat sasaran,” katanya.
Bulog menegaskan komitmennya menjaga stabilitas pasokan pangan di tengah bencana serta memastikan pemenuhan kebutuhan masyarakat tetap menjadi prioritas utama negara.
Sebelum insiden terjadi, Bulog telah berkoordinasi dengan Polres Sibolga dan Kodim Tapanuli Tengah untuk pengamanan gudang. Personel Polsek dan Koramil sudah ditempatkan di lokasi, namun fokus aparat saat itu lebih dipusatkan pada evakuasi korban dan penanganan darurat bencana.
Melihat potensi kerawanan meningkat, Kepala Cabang (Pinca) Bulog Sibolga bahkan telah meminta tambahan personel kepada Kodim dan Polresta Sibolga. Kantor Wilayah Bulog Sumut juga melakukan koordinasi lanjutan dengan Kodam dan Polda Sumut agar bantuan pengamanan tiba lebih cepat.
Namun sebelum personel tambahan datang, massa tiba-tiba berkumpul di depan gudang. Warga yang terdesak kebutuhan pangan memaksa masuk dengan merobohkan pagar gerbang, merusak gembok, dan mengambil beras serta minyak goreng yang disimpan di dalam gudang. Aparat yang berada di lokasi telah mencoba melakukan penghalauan, namun massa tidak terkendali.
Penjarahan dipicu kondisi yang semakin gawat setelah akses jalan menuju Sibolga dan Tapteng terputus selama sekitar tiga hari akibat banjir dan longsor. Ketiadaan pasokan pangan membuat warga berada dalam kondisi darurat hingga akhirnya tindakan anarkis tak dapat dihindari.
(Arf)