Tekan Enter untuk mencari

Kabut Asap Makin Pekat di Tenggarong, Warga Keluhkan Mata Perih hingga Napas Lebih Berat

Foto: Kabut asap tebal menyelimuti wilayah Tenggarong.

Akupedia.id, Tenggarong – Kabut asap yang menyelimuti wilayah Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), semakin pekat dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut mulai dirasakan warga yang tetap beraktivitas di luar rumah, mulai dari terganggunya jarak pandang hingga keluhan pada mata dan pernapasan.

Aisyah, warga yang ditemui saat berjalan-jalan sore di kawasan Monumen Pancasila, mengatakan kabut asap baru terasa cukup jelas dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut membuat objek yang berada di kejauhan terlihat lebih gelap dan samar.

“Kalau melihat jarak jauh, terlihat agak gelap. Cuacanya juga panas, tetapi karena ada kabut jadi seperti terasa teduh. Namun, di badan terasa kurang enak,” ujarnya, Minggu (30/8/2026).

Sebagai seorang guru, Aisyah mengaku aktivitas sehari-harinya tetap berjalan seperti biasa. Namun, kondisi kabut asap cukup terasa ketika dirinya harus berada di luar ruangan.

Ia berharap kondisi tersebut tidak semakin parah hingga berdampak pada kegiatan belajar mengajar.

“Semoga tidak sampai ada daerah lain yang harus menerapkan BDR, karena kasihan anak-anak. Harapannya tidak ada lagi kebakaran lahan,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Raisya dan Novira, warga yang tengah bersantai di Taman Tanjong. Keduanya mengaku kabut asap mulai mengganggu aktivitas, terutama karena membuat mata terasa perih.

“Kalau terkena asap, rasanya seperti debu-debu masuk ke mata. Mata juga mudah terasa perih,” ujar salah seorang dari mereka.

Untuk mengurangi paparan asap, keduanya memilih menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

Sementara itu, Panji Wardana yang tetap berolahraga dengan bersepeda di tengah kondisi tersebut mengaku mulai merasakan perubahan pada stamina dan pernapasan.

“Sekarang mulai terasa agak lebih capek ketika berolahraga. Napas juga mulai terasa lebih lelah dan heart rate agak meningkat. Mungkin karena kualitas udara sedang buruk,” ujarnya.

Menurut Panji, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, khususnya bagi lansia dan masyarakat yang memiliki penyakit tertentu. Ia juga melihat mulai adanya kesadaran masyarakat untuk menggunakan masker, termasuk relawan yang membagikannya kepada warga.

Selain berdampak terhadap kesehatan, kabut asap juga mulai mengganggu jarak pandang. Panji mengatakan objek yang berada cukup jauh sudah tidak terlihat jelas.

“Kalau melihat jembatan dari jauh, bagian atasnya sudah mulai tidak kelihatan dengan jelas,” katanya.

Hal serupa dirasakan Nazwa Rizli Ananda, warga Samarinda yang datang ke Tenggarong untuk bersepeda. Ia menilai kabut asap di Tenggarong terlihat lebih pekat dibandingkan yang dirasakannya di Samarinda.

“Di Tenggarong asapnya lebih terlihat dibandingkan di Samarinda. Terlihat sangat berkabut dan berasap,” ujarnya.

Nazwa menyebut kondisi tersebut cukup mengganggu karena sejumlah area mulai tertutup kabut sehingga sulit terlihat dengan jelas. Meski belum merasakan gangguan kesehatan secara langsung, ia khawatir paparan asap dalam jangka panjang dapat memberikan dampak bagi kesehatan.

“Secara tidak sadar kita juga menghirup asap tersebut. Mungkin efeknya belum terlihat sekarang, tetapi kalau kondisi ini berkelanjutan, bisa memberikan dampak yang cukup parah bagi kesehatan,” katanya.

Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah lebih lanjut untuk menangani kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kukar.

Penanganan titik-titik api dinilai penting untuk mencegah kebakaran semakin meluas dan kabut asap semakin tebal menyelimuti Tenggarong.

Di tengah kondisi tersebut, warga juga mulai melakukan langkah perlindungan secara mandiri dengan menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Namun, mereka berharap penanganan sumber kebakaran dapat segera dilakukan agar kabut asap tidak semakin mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini