Akupedia.id, Tenggarong – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Samarinda, memprakirakan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) akan mengalami curah hujan kategori rendah selama awal Agustus 2026 seiring memasuki puncak musim kemarau.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut.
Forecaster BMKG Kota Samarinda, Fiona Alya Hanifah, menjelaskan bahwa pada dasarian ketiga Juli hingga awal Agustus, sebagian besar wilayah Kukar diperkirakan hanya menerima curah hujan dalam kategori rendah.
Untuk periode 1–10 Agustus, curah hujan di Kukar diprakirakan berkisar antara 10 hingga 50 milimeter, sedangkan Kota Samarinda berada pada kisaran 10 hingga 20 milimeter.
“Untuk 1 sampai 10 Agustus, Kabupaten Kutai Kartanegara semuanya masuk kategori rendah dengan curah hujan 10 sampai 50 milimeter. Samarinda juga masuk kategori rendah, dengan curah hujan sekitar 10 sampai 20 milimeter,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa Stasiun BMKG Kota Samarinda memperkirakan musim kemarau di Kukar masih akan berlangsung hingga akhir Agustus sampai awal Oktober 2026.
Rentang waktu tersebut disebabkan Kukar memiliki wilayah yang sangat luas dengan 12 Zona Musim (ZOM), sehingga setiap wilayah memiliki karakteristik dan waktu berakhirnya musim kemarau yang berbeda. Meski demikian, BMKG akan terus memperbarui prakiraan sesuai perkembangan kondisi atmosfer dan cuaca.
Seiring menurunnya curah hujan, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Fiona mengatakan wilayah yang memiliki lahan gambut menjadi daerah yang paling rentan mengalami karhutla ketika musim kemarau berlangsung.
Berdasarkan pemantauan hotspot BMKG, sejumlah wilayah di Kalimantan Timur yang saat ini terpantau memiliki titik panas antara lain Berau, Paser, Kutai Timur, Kukar, Penajam Paser Utara (PPU), serta Balikpapan. Namun, jumlah dan sebaran hotspot tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai hasil pemantauan harian.
“Wilayah yang rawan itu sebenarnya yang banyak lahan gambut dan mengalami hari tanpa hujan yang panjang, jadi lebih berpotensi terjadi kebakaran,” katanya.
Selain ancaman karhutla, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mulai mengantisipasi potensi berkurangnya ketersediaan air bersih. Sebab, sebagian masyarakat masih mengandalkan sumber air alami seperti air hujan dan sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Fiona menambahkan, terdapat peluang pengaruh El-Nino yang dapat memperkuat kondisi kering sehingga curah hujan berpotensi semakin menurun. Karena itu, masyarakat diimbau mengelola penggunaan air secara bijak serta tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Masyarakat diharapkan dapat mengantisipasi ketersediaan air dan tidak membuka lahan dengan membakar. Selain itu, tetap menjaga kebersihan lingkungan agar dapat meminimalkan risiko terjadinya kebakaran selama musim kemarau,” tutupnya.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





