Akupedia.id, Tenggarong – Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih ada warga yang setiap hari harus mempertaruhkan keselamatan demi beraktivitas.
Di Dusun Damai, RT 9, Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, satu-satunya akses penyeberangan menuju permukiman masih mengandalkan kereta gantung sederhana selebar sekitar 1,20 meter yang melintasi Sungai Santan.
Kereta gantung buatan swadaya masyarakat itu membentang di atas sungai dengan lebar sekitar 30 hingga 50 meter. Bukan hanya digunakan warga menuju kebun atau beraktivitas sehari-hari, sarana sederhana tersebut juga menjadi jalur utama anak-anak menuju sekolah.
Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, mengatakan pemerintah desa telah berulang kali mengusulkan pembangunan jembatan permanen. Bahkan lokasi tersebut pernah ditinjau langsung oleh bupati sebelumnya, namun hingga kini belum ada realisasi.
“Ke kabupaten pernah dikunjungi oleh bupati sebelumnya. Waktu itu mau dikondisikan, tetapi mungkin karena masa jabatan beliau sudah berakhir, akhirnya belum terealisasi. Sekarang bupatinya sudah berganti,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon, Kamis (16/7/2026).
Tak hanya itu, usulan pembangunan juga telah disampaikan melalui pemerintah kecamatan hingga diusulkan ke pemerintah pusat melalui program pembangunan jembatan. Namun, sampai saat ini belum mendapat tindak lanjut.
“Sudah dua kali dikunjungi pihak kecamatan. Saya juga usulkan ke program pusat, termasuk program jembatan yang dulu disampaikan Pak Prabowo, tapi belum ada respons sampai sekarang,” katanya.
Bupati Kukar yang saat ini menjabat juga pernah menegaskan bahwa pemerintah daerah sudah berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan akan segera ditindaklanjuti, namun hingga kini belum terealisasi.
Menurut Heri, salah satu kendala yang kerap disampaikan adalah status lokasi yang berada di kawasan hutan lindung. Meski demikian, ia berharap persoalan tersebut tidak mengesampingkan kebutuhan dasar masyarakat.
“Kalau kami melihatnya dari sisi kemanusiaan, bukan melihat status lahannya. Yang terpenting masyarakat punya akses yang aman,” tegasnya.
Ia menjelaskan, kereta gantung tersebut memiliki lebar sekitar 1,20 meter dan menjadi akses vital bagi sejumlah kepala keluarga yang bermukim di Dusun Damai. Anak-anak sekolah menjadi pengguna terbanyak setiap hari.
“Yang paling mengandalkan kereta gantung itu anak-anak sekolah. Di sana juga ada beberapa rumah yang memang aksesnya melalui penyeberangan itu,” ujarnya.
Kondisi ini sebenarnya telah lama menjadi perhatian. Kereta gantung yang digunakan warga merupakan hasil gotong royong masyarakat dan telah beroperasi sekitar dua hingga tiga tahun terakhir.
Di Desa Santan Ulu sendiri terdapat lima unit kereta gantung serupa yang digunakan sebagai akses menuju sekolah, kebun, hingga mengangkut hasil panen.
Heri berharap pembangunan jembatan permanen dapat segera direalisasikan agar masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, tidak lagi bergantung pada fasilitas darurat yang penuh risiko.
“Harapan kami semoga ada penanganan secepatnya. Jangan sampai baru ada tindakan setelah terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan,” pungkasnya.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





