Akupedia.id, Tenggarong – Kebakaran besar yang melanda permukiman di Jalan Danau Aji–Jalan Alimuddin, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), memaksa Ilyansyah, warga RT 33 Kelurahan Melayu yang turut menjadi korban bersama keluarganya harus mengungsi.
Rumahnya telah habis dilalap api. Tak ada lagi tempat untuk berlindung seperti sebelumnya.
Tetapi, pada Jumat (16/10/2026), Ilyansyah diminta mendatangi Kantor Kelurahan Melayu untuk menerima bantuan bagi korban kebakaran.
Di tengah kehilangan yang dialaminya, bantuan tersebut menjadi salah satu penopang untuk kembali menata kehidupan keluarganya.
Selain menerima donasi sebesar Rp24 juta, ia juga mendapatkan seragam sekolah dari pihak kelurahan. Bantuan itu menjadi bagian dari dukungan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat kebakaran.
Saat ditanya mengenai kondisi rumahnya, Ilyansyah memastikan seluruhnya habis terbakar. Kini, ia harus menjalani hari-hari di rumah sewaan milik kerabatnya sembari memikirkan kebutuhan keluarga dan tempat tinggal selanjutnya.
Meski demikian, ia mengaku bersyukur karena bantuan yang diberikan selama ini cukup membantu, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Bantuan dari lurah semua, kan sembako. Alhamdulillah, kalau untuk sembako itu cukup,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah kelurahan atas perhatian dan bantuan yang diberikan sejak musibah terjadi. Menurutnya, penyaluran bantuan berjalan lancar dan kebutuhan pokok warga terdampak sejauh ini dapat terpenuhi.
“Kita mengucapkan terima kasih banyak kepada kelurahan atas bantuan selama ini. Tidak ada terhalang apa pun, bantuan apa pun lancar semua,” ungkapnya.
Bagi Ilyansyah dan keluarga, bantuan tersebut menjadi bagian dari proses pemulihan setelah kehilangan rumah.
Namun, perjalanan untuk kembali memiliki tempat tinggal yang layak tentu membutuhkan upaya lebih panjang.
Donasi Rp939 Juta untuk Warga Terdampak
Bantuan yang diterima Ilyansyah merupakan bagian dari donasi yang dihimpun untuk korban kebakaran di Kelurahan Melayu. Total dana yang terkumpul selama kurang lebih satu minggu telah mencapai Rp939.546.000.
Lurah Melayu, Muhammad Hafiz, mengatakan penyaluran donasi dilakukan di Kantor Kelurahan Melayu pada Jumat (16/10/2026) dan didasarkan hasil pendataan, verifikasi, dan musyawarah bersama. Pembagian bantuan mempertimbangkan kondisi warga serta besarnya kerugian material yang dialami.
“Total donasi yang terkumpul Rp939.546.000. Setelah kami sepakati melalui musyawarah hari ini, bantuan lebih difokuskan kepada pemilik rumah. Bagaimanapun semuanya korban, tetapi pemilik rumah terutama merupakan korban yang paling tinggi kerugian materialnya,” jelas Hafiz.
Berdasarkan hasil verifikasi, sebanyak 35 pemilik rumah pribadi dan rumah kos menerima donasi masing-masing Rp24 juta. Sementara itu, warga yang menyewa atau mengontrak rumah mendapatkan kompensasi berdasarkan jumlah pintu hunian.
Sebanyak 25 pintu sewa menerima kompensasi masing-masing Rp3,7 juta. Bantuan tersebut diperuntukkan membantu penyewa mencari tempat tinggal lain setelah rumah yang mereka tempati terdampak kebakaran.
“Untuk yang sewa atau mengontrak itu hitungannya per pintu. Satu pintu mendapatkan Rp3,7 juta. Itu sebagai kompensasi untuk kebutuhan mereka mengontrak di tempat lain,” ujarnya.
Selain itu, empat rumah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang menerima bantuan masing-masing Rp1.761.500 sesuai kesepakatan penyaluran.
Hafiz menjelaskan, dana yang dibagikan merupakan hasil pengumpulan donasi sejak pascakebakaran pada Selasa, 6 Oktober 2026 hingga Kamis, 15 Oktober 2026.
Lalu, pada Jumat (16/10/2026), tepat pukul 12.00 WITA, penerimaan donasi uang tunai dan bantuan logistik resmi ditutup.
“Per pukul 12.00 siang tadi, kami nyatakan penerimaan logistik dan donasi berupa uang tunai ditutup,” katanya.
Permukiman Padat Jadi Perhatian
Di tengah proses pemulihan warga, pencegahan kebakaran kembali menjadi perhatian pemerintah kelurahan.
Kawasan Kelurahan Melayu merupakan permukiman padat penduduk dengan risiko kebakaran yang perlu diantisipasi bersama.
Hafiz menyebutkan, pemerintah telah menempatkan dua tandon air berkapasitas masing-masing 5.500 liter di titik yang dinilai rawan kebakaran. Penempatan tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil rapat dengar pendapat sebelumnya.
Satu tandon ditempatkan di RT 32 yang masuk kawasan zona merah. Sementara satu lainnya berada di RT 3, yang memiliki gang sempit sehingga kendaraan pemadam kebakaran sulit menjangkau bagian dalam permukiman.
“Untuk sementara, di titik rawan kami menyebar dua tandon berkapasitas 5.500 liter, satu di RT 32 yang memang masuk kawasan zona merah dan satu lagi di RT 3 karena kondisi wilayahnya berada di tengah permukiman, sehingga mobil tidak bisa masuk,” ungkapnya.
Selain penyediaan tandon, pihak kelurahan akan mengimbau pengurus RT dan masyarakat untuk mengaktifkan kembali ronda malam serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
Kelurahan Melayu memiliki 47 RT dengan kondisi wilayah yang berbeda-beda. Namun, kepadatan permukiman membuat banyak kawasan memiliki risiko kebakaran yang perlu diantisipasi melalui kesiapsiagaan masyarakat dan dukungan fasilitas penanganan.
Bagi Ilyansyah, bantuan yang diterima menjadi awal untuk kembali melangkah setelah kehilangan rumah.
Sembari tinggal bersama keluarga, ia dan warga terdampak lainnya harus perlahan menata kehidupan yang berubah akibat kebakaran.
Penulis: Aditya Lesmana





