Akupedia.id, Tenggarong – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyebut kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa hari terakhir mulai menunjukkan penurunan.
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan, hotspot sempat berada di kisaran 100 titik per hari. Namun, titik yang terkonfirmasi sebagai fire spot atau lokasi yang benar-benar terbakar berada di bawah 10 kejadian.
“Hotspot turun, cuma kabut asap tinggi. Ini dalam dua-tiga hari lumayan. Dari kemarin pantauan sampai 100 gitu lah perharinya. Itu kan hotspot, nanti kita lihat lagi yang menjadi fire spot itu gak sampai 10,” ujar Aspianur, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, BPBD saat ini memprioritaskan penanganan kebakaran yang berada di sekitar objek vital (obvit) serta lokasi yang mendekati permukiman warga.
“Memang prioritas kita sekarang adalah penanganan kebakaran itu yang mengenai objek vital dan yang mendekati pemukiman. Itu yang prioritas kita,” katanya.
Aspianur menyebut kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir turut memengaruhi pemantauan titik panas. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 19 September juga diperpanjang hingga 24 September 2026.
“Kalau kemarin alhamdulillah, lewat Pak Budi juga, kemarin saya ada komunikasi OMC itu diperpanjang. Sebenarnya kemarin berakhir tanggal 19, akhirnya ini diperpanjang sampai tanggal 24,” jelasnya.
Meski demikian, pelaksanaan OMC sebelumnya belum banyak menghasilkan hujan di wilayah Kukar. Selama empat hari pelaksanaan, hujan justru lebih banyak terjadi di wilayah Berau dan kawasan hulu, sementara sebagian lainnya bergerak ke arah Pontianak.
Aspianur berharap pelaksanaan OMC berikutnya dapat meningkatkan potensi hujan di wilayah Kukar, terutama untuk membantu penanganan karhutla yang masih terjadi di sejumlah kawasan.
Untuk titik kebakaran terbaru, BPBD menyebut belum terdapat perubahan signifikan. Sejumlah lokasi yang masih menjadi perhatian berada di kawasan lahan gambut serta wilayah yang berdekatan dengan objek vital.
“Kalau titik terbaru nggak ada, kebanyakan ya seputar-seputar lahan sama tempat-tempat gambut,” ungkapnya.
Dua wilayah yang masih menjadi perhatian BPBD yakni kawasan cagar alam di Kecamatan Muara Kaman yang memiliki karakteristik lahan gambut, serta Kecamatan Muara Jawa yang terdapat jalur pipa minyak Pertamina.
Sementara itu, penanganan karhutla di wilayah Muara Badak sebelumnya telah dituntaskan. Namun, BPBD masih menemukan sejumlah titik baru di Desa Badak Baru dan Tanjung Limau.
Menurut Aspianur, munculnya titik-titik baru tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas masyarakat yang kurang memperhatikan potensi terjadinya kebakaran.
“Kalau kemarin kita sudah menuntaskan yang di Muara Badak. Alhamdulillah, meskipun sudah ada beberapa titik baru sih di Desa Badak Baru sama kemarin malam itu di Tanjung Limau,” pungkasnya.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





