Tekan Enter untuk mencari

Ribuan Pelamar Disaring Ketat, Rekrutmen Nakes RSUD Muara Badak Kini Tertahan Isu Transparansi

Foto: Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara, Waode Nuraida

Akupedia.id, Tenggarong — Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara menyatakan proses rekrutmen tenaga kesehatan untuk RSUD Muara Badak dilakukan secara berlapis dengan menitikberatkan pada aspek kompetensi.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kukar, Waode Nuraida, mengatakan tahapan seleksi telah berjalan sesuai tugas dan fungsi masing-masing tim. Proses kini memasuki tahap wawancara.

“Semua tim sudah bekerja sesuai tupoksi masing-masing. Saat ini prosesnya sudah sampai pada seleksi wawancara,” ujarnya saat ditemui, Kamis (16/4/2026).

Ia menjelaskan, seleksi diawali dengan tahap administrasi yang mensyaratkan kelengkapan dokumen sesuai profesi pelamar.

Untuk tenaga medis seperti dokter, pelamar diwajibkan memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) serta sertifikasi pendukung seperti Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) atau Advanced Trauma Life Support (ATLS). Adapun bidan harus memiliki sertifikat Asuhan Persalinan Normal (APN) dan kompetensi lainnya.

“Sejak awal mereka sudah tahu syarat minimalnya. Kalau tidak terpenuhi, otomatis gugur dalam sistem,” tegasnya.

Dinkes juga menerapkan skema prioritas wilayah atau ring. Ring satu berasal dari Muara Badak dan sekitarnya, ring dua dari wilayah Kukar, dan ring tiga dari luar daerah.

“Harapan kami, kalau kebutuhan sudah terpenuhi dari ring satu, tidak perlu mengambil dari ring dua atau tiga,” jelasnya.

Dari lebih dari seribu pelamar, seleksi berkas menyaring peserta ke tahap uji kompetensi. Pada tahap ini, peserta mengikuti tes tulis dan praktik yang dilaksanakan secara tertutup dengan pengawasan tim berbeda di tiap tahapan.

Menurut Waode, pemisahan tim penilai dimaksudkan untuk menjaga objektivitas sekaligus meminimalkan potensi kekeliruan penilaian.

“Kalau ada yang mungkin lolos di seleksi berkas karena human error, di tahap kompetensi ini akan terdeteksi. Bahkan jika ternyata tidak memenuhi syarat, tetap akan digugurkan,” jelasnya.

Bobot penilaian terdiri dari 70 persen tes kompetensi dan 30 persen wawancara. Pada tahap wawancara, penilaian tidak hanya mencakup kemampuan teknis, tetapi juga komitmen, pengalaman kerja, kemampuan komunikasi, serta kesiapan menghadapi tekanan kerja di rumah sakit.

“Rumah sakit itu berbeda. Tingkat stresnya tinggi, berhadapan langsung dengan pasien yang dalam kondisi emosional. Jadi kami juga menilai kesiapan mental mereka,” ujarnya.

Aspek sosial-budaya turut menjadi pertimbangan, termasuk kemampuan berbahasa lokal untuk menunjang komunikasi dengan masyarakat setempat, meski bukan faktor penentu utama.

“Kami sampai menanyakan apakah mereka bisa berbahasa Bugis, karena itu mayoritas masyarakat di sana. Tapi itu bukan penentu utama, tetap kompetensi yang paling besar nilainya,” katanya.

Setelah wawancara, nilai peserta digabungkan untuk menentukan kelulusan ke tahap tes kesehatan lanjutan, yang meliputi pemeriksaan narkoba dan tes psikologi (MMPI).

Di sisi lain, Waode mengakui proses rekrutmen sempat terhambat oleh tuntutan transparansi dari sejumlah pihak.

“Kami sebenarnya terbuka terhadap pengawasan, tapi transparansi juga ada batasnya karena menyangkut data pribadi,” ujarnya.

Ia menyebut permintaan data detail peserta tanpa dasar pembanding justru memperlambat proses seleksi.

“Ini yang akhirnya menghambat. Kami belum bisa mengumumkan tahap selanjutnya karena situasi belum kondusif,” pungkasnya.

Dinkes Kukar meminta publik memberi kepercayaan kepada tim seleksi agar proses berjalan hingga tuntas. Diharapkan, tenaga kesehatan yang terpilih memiliki kompetensi dan kesiapan kerja untuk mendukung operasional RSUD Aji Muhammad Idris serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini