Akupedia.id, Tenggarong – Proses rekrutmen tenaga kesehatan untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aji Muhammad Idris di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus menuai sorotan dari masyarakat. Isu transparansi serta keterlibatan tenaga lokal menjadi perhatian utama dalam polemik tersebut.
Sebagai tindak lanjut, Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Pesisir Daerah (AMARAH) menggelar aksi unjuk rasa di RSUD Aji Muhammad Idris pada Rabu (15/4/2026). Aksi ini dipicu oleh banyaknya laporan pelamar yang merasa dirugikan dalam proses seleksi.
Koordinator Lapangan aksi, Erdin Syam, menyebut tuntutan utama mereka adalah keterbukaan hasil seleksi.
“Harusnya dibuka siapa yang lulus dan siapa yang mendaftar, seperti di non-skill. Tapi ini tidak ada,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon, Kamis (16/4/2026).
Selain itu, ia menegaskan bahwa muncul dugaan adanya perubahan status kelulusan dalam sistem pendaftaran. Beberapa pelamar disebut sempat dinyatakan lolos, namun kemudian berubah dalam waktu singkat.
“Ada informasi beberapa orang sempat dinyatakan lolos, tapi beberapa jam kemudian berubah menjadi tidak lolos,” tambahnya.
AMARAH juga menyoroti minimnya keterlibatan tenaga lokal dalam hasil sementara seleksi. Berdasarkan data yang beredar, jumlah pelamar asal Muara Badak yang lolos tahap wawancara disebut belum mencapai setengah dari total peserta.
Menurut mereka, untuk sejumlah posisi seperti tenaga administrasi, perawat, hingga laboratorium, seharusnya dapat diisi oleh masyarakat lokal.
“Kalau dokter spesialis wajar dari luar, tapi untuk posisi lain harusnya bisa dari masyarakat lokal,” tegasnya.
Saat ini, pihak aksi juga telah membuka posko pengaduan untuk menampung laporan masyarakat yang merasa dirugikan.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama RSUD Aji Muhammad Idris Muara Badak, Fauzan Achmad, membantah adanya sistem yang secara otomatis menyatakan kelulusan peserta.
“Tidak ada status ‘lulus’ di sistem. Itu hanya template informasi jadwal setelah peserta mengikuti tahapan tertentu,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui telepon, Jumat (17/4/2027).
Ia menegaskan bahwa prioritas tenaga lokal tetap menjadi komitmen, namun harus disesuaikan dengan kualifikasi dan kebutuhan formasi.
“Kami prioritaskan Muara Badak, tapi tetap harus sesuai kualifikasi,” ujarnya.
Proses seleksi sendiri dilakukan secara bertahap dan terus mengerucut dari jumlah pelamar yang mencapai lebih dari seribu orang. Data yang sempat beredar terkait persentase tenaga lokal pun disebut belum final.
Di sisi lain, polemik yang terjadi berdampak pada tertundanya tahapan lanjutan, termasuk pengumuman hasil seleksi menuju tes kesehatan. Dinas Kesehatan Kukar pun mengingatkan, jika kondisi ini terus berlanjut, maka proses operasional RSUD Aji Muhammad Idris berpotensi ikut terhambat.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





