Tekan Enter untuk mencari

Tiga Kebiasaan Sepele yang Bisa Bikin Otak Menyusut

Ilustrasi otak. (Shutterstock)

Akupedia.id – Seiring bertambahnya usia, otak manusia memang mengalami proses penyusutan alami yang dikenal dalam dunia medis sebagai atrofi serebri. Namun, proses ini ternyata bisa terjadi lebih cepat dari seharusnya jika dipicu oleh gaya hidup yang kurang sehat. Tanpa disadari, kebiasaan harian yang tampak sederhana justru dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif dan motorik.

Spesialis Bedah Saraf, dr. Dimas Rahman Setiawan, SpBS, mengingatkan bahwa banyak orang tidak menyadari dampak buruk dari rutinitas yang dianggap biasa. Menurutnya, beberapa pola hidup yang kerap diabaikan justru menjadi faktor utama penyusutan volume otak lebih dini. Ia menegaskan bahwa menjaga kesehatan otak tidak hanya soal usia, tetapi juga soal kebiasaan.

Berikut tiga kebiasaan yang perlu diwaspadai agar kesehatan otak tetap terjaga:

  1. Pola makan yang hanya berorientasi kenyang

    Banyak orang masih berpegang pada prinsip makan asal perut terisi tanpa memperhatikan keseimbangan nutrisi. dr. Dimas menyoroti dominasi karbohidrat, seperti nasi berlebihan, yang sering tidak diimbangi dengan asupan protein.

    “Nutrisi yang baik adalah nutrisi yang seimbang. Di Indonesia, seringkali karbohidratnya terlalu banyak, sementara proteinnya kurang,” ujarnya.

    Padahal, protein dan mikronutrisi berperan penting sebagai “bahan bakar” bagi regenerasi sel otak dan menjaga fungsinya tetap optimal.

    2. Kebiasaan kedua adalah gaya hidup malas bergerak atau yang populer disebut “mager”

      Kurangnya aktivitas fisik tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga kesehatan otak. dr. Dimas menjelaskan bahwa olahraga membantu melancarkan peredaran darah, sehingga oksigen dan nutrisi dapat terserap lebih baik oleh jaringan saraf. Dengan tubuh yang aktif, aliran nutrisi ke otak menjadi lebih optimal dan risiko penyusutan dini dapat ditekan.

      3. Kebiasaan terakhir yang sering terjadi adalah berhenti berpikir aktif dan menarik diri dari lingkungan sosial

      Fenomena ini banyak dialami mereka yang memasuki usia 40 hingga 50 tahun ke atas. Anggapan bahwa usia tua berarti mengurangi aktivitas justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan otak.

      “Tidak beraktivitas menyebabkan manusia tidak biasa berpikir, sehingga lama-kelamaan volume otaknya mulai mengecil,” jelas dr. Dimas. Ia menekankan bahwa otak ibarat otot, yang harus terus digunakan agar tetap kuat.

      Ia pun menyarankan masyarakat untuk tetap aktif dalam berbagai kegiatan, baik pekerjaan, hobi, maupun aktivitas sosial. Keterlibatan dalam komunitas seperti kegiatan keagamaan, organisasi masyarakat, atau hobi yang melatih konsentrasi dinilai efektif menjaga fungsi otak tetap tajam.

      Menjaga kesehatan otak tidak selalu harus melalui langkah medis yang rumit. Dengan pola makan seimbang, rutin berolahraga, serta tetap aktif secara sosial dan mental, setiap orang dapat memperlambat penuaan otak dan menjaga kualitas hidup lebih lama. Kebiasaan kecil hari ini bisa menentukan kesehatan otak di masa depan.

      Rekomendasi

      Pasang Iklan di sini