Tekan Enter untuk mencari

Karhutla Kaltim Capai 8.713 Hektare, Kabut Asap dan Kasus ISPA Jadi Perhatian

Foto: Ilustrasi

Akupedia.id, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) masih menjadi perhatian meski luas kebakaran mulai menurun pada Oktober 2026. Pemerintah Provinsi Kaltim mencatat luas area terdampak mencapai 8.713,14 hektare hingga 13 Oktober 2026. Sementara itu, kabut asap dan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menambah tantangan penanganan bencana di sejumlah daerah.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, terdapat 2.162 kejadian karhutla dengan luas area terdampak 8.713,14 hektare hingga 13 Oktober 2026. Data tersebut menunjukkan kebakaran masih memerlukan penanganan terpadu, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan sumber air dan akses menuju lokasi kebakaran.

Meski demikian, BPBD Kaltim mencatat penurunan luas karhutla pada Oktober. Pelaksana Harian Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kaltim, Tresna Rosano, mengatakan luas kebakaran pada Agustus dan September rata-rata mencapai 3.000 hingga 4.000 hektare. Sementara pada Oktober, luas karhutla tercatat sekitar 1.223 hektare.

“Ini sesuai dengan prediksi kita bahwa pada akhir Oktober mulai memasuki musim penghujan,” ujar Tresna dalam diskusi bertajuk “Sampai Kapan Kaltim di Bawah Bayangan Karhutla” di Samarinda, Senin (19/10/2026).

Tresna menjelaskan, hujan diharapkan membantu mengurangi kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah. Namun, kondisi udara di beberapa daerah, termasuk Kutai Barat dan Samarinda, masih tergolong kurang sehat. Angin kencang, keterbatasan sumber air, serta sulitnya menjangkau titik api menjadi kendala petugas dalam melakukan pemadaman. Kebakaran di lahan gambut dan kawasan dengan vegetasi tinggi juga membutuhkan penanganan lebih intensif untuk memastikan api benar-benar padam.

Dari sisi kawasan hutan, Dinas Kehutanan Kaltim mencatat kebakaran seluas 1.393,16 hektare sepanjang 1 Agustus hingga 18 Oktober 2026. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan Kaltim, Rusmadi, menyebut angka tersebut setara 40,85 persen dari total 3.410 hektare karhutla yang tercatat pada periode tersebut. Adapun 2.017,5 hektare atau 59,15 persen berada di Areal Penggunaan Lain (APL), yakni wilayah di luar kawasan hutan negara.

“Berdasarkan rekapitulasi penanganan, luasan kawasan hutan yang terbakar mencakup sekitar 40,85 persen dari total karhutla di Kaltim,” kata Rusmadi.

Ia merinci, kebakaran di kawasan hutan meliputi 1.060,85 hektare hutan produksi, 156,1 hektare hutan konservasi, 126,32 hektare hutan lindung, 47,89 hektare hutan produksi terbatas, serta dua hektare hutan produksi konversi. Wilayah KPHP Berau Utara di Kabupaten Berau mencatat kebakaran kawasan hutan terluas, yakni 216,4 hektare, disusul KPHP Manoor Bulatn di Kutai Barat seluas 159 hektare.

Dampak karhutla juga menjadi perhatian sektor kesehatan. Dinas Kesehatan Kaltim melaporkan jumlah suspek ISPA mencapai 12.226 kasus pada Minggu Epidemiologi ke-40 tahun 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 11,9 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Secara kumulatif, kasus ISPA di 10 kabupaten dan kota di Kaltim mencapai 327.160 kasus hingga 18 Oktober 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Andi Muhammad Ishak, menjelaskan bahwa paparan partikel halus dari asap karhutla, debu, serta kondisi cuaca panas dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Untuk mendukung penanganan pasien, Dinkes Kaltim juga menyalurkan 10 unit mesin oxygen concentrator dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI ke puskesmas di wilayah prioritas.

Pemerintah provinsi turut memperkuat upaya pencegahan. Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud melarang masyarakat maupun perusahaan melakukan pembakaran lahan, hutan, dan sampah selama musim kemarau. Ia juga meminta pengawasan ditingkatkan melalui koordinasi pemerintah daerah, TNI, Polri, serta pelibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama.

“Kaltim tidak termasuk dalam enam provinsi prioritas penanganan karhutla. Meski begitu, kita tidak boleh menganggap sepele. Kita harus tetap waspada dan terus meningkatkan pengawasan,” kata Rudy.

BPBD mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas dan mengurangi kegiatan di luar ruangan apabila tidak mendesak ketika kualitas udara memburuk. Warga juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan kemunculan titik api kepada petugas. Penurunan luas kebakaran pada Oktober menjadi perkembangan positif, tetapi upaya pencegahan dan pemantauan tetap diperlukan untuk menekan risiko kebakaran berulang dan melindungi kesehatan masyarakat.

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini