Tekan Enter untuk mencari

Peserta KB Aktif Kukar Naik, Capai 88.556 Akseptor hingga September 2026

Akupedia.id, Tenggarong – Jumlah peserta Keluarga Berencana (KB) aktif di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengalami peningkatan. Hingga akhir September 2026, jumlah peserta KB aktif mencapai 88.556 akseptor, naik dibandingkan 2025 yang tercatat sebanyak 77.096 akseptor.

Peningkatan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi/Edukasi Program KB dan Kontrasepsi serta Pelayanan KB Gratis yang digelar di Puskesmas Rapak Mahang, Jumat (2/10/2026).

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Staff Ahli Pemerintah, Martina Yulianti, menyampaikan bahwa peningkatan juga terjadi pada penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP).

Pada 2025, peserta KB dengan metode MKJP tercatat 15.220 akseptor atau 19,74 persen. Sementara hingga September 2026 meningkat menjadi 19.079 akseptor atau 21,54 persen.

Sementara angka unmet need atau kebutuhan pelayanan KB yang belum terpenuhi mengalami penurunan, dari 4,98 persen pada 2025 menjadi 2,92 persen hingga September 2026.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kukar, Maman Setiawan, mengatakan program KB tidak hanya diarahkan untuk penggunaan alat kontrasepsi, tetapi bagian dari upaya mewujudkan keluarga berkualitas.

“Intinya gini ya, program ini kan tujuannya satu, cuma kita harus mewujudkan keluarga yang berkualitas,” kata Maman.

Ia menjelaskan, DP2KB Kukar menargetkan 2.596 pelayanan KB dalam satu tahun. Pelayanan tersebut terbagi dalam sejumlah jenis dan dilaksanakan dalam beberapa momentum dengan dukungan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK).

Staf Ahli Pemerintah Kukar, dr Martina Yulianti, menekankan pentingnya mengubah pemahaman masyarakat mengenai KB.

Menurutnya, KB tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan, tetapi lebih jauh mengenai bagaimana keluarga merencanakan kehidupannya.

“KB itu keluarga berencana. Tahunya KB itu susuk, apa lagi, steril, suntik, tahunya KB itu itu. Tapi sebenarnya kan merencanakan, itu intinya,” ujarnya.

Menurut Martina, perencanaan keluarga juga berkaitan dengan upaya pencegahan stunting. Ketika kehamilan dan kelahiran direncanakan, orang tua dapat lebih mempersiapkan pemenuhan kebutuhan anak sejak masa seribu hari pertama kehidupan.

Ia berharap edukasi tersebut juga semakin menyasar generasi milenial dan Gen Z agar memahami bahwa membangun keluarga perlu direncanakan. Pemerintah, kata dia, juga telah menyediakan alat kontrasepsi dan pelayanan pemasangannya secara gratis.

Hal senada disampaikan Kepala Puskesmas Rapak Mahang, Siti Aminah. Ia mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan Hari Kontrasepsi Dunia sekaligus momentum untuk memperkuat edukasi dan pelayanan KB kepada masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, pihaknya menargetkan sekitar 100 peserta. Sejak pelayanan dimulai pukul 07.45 WITA, sudah terdapat sekitar 30 peserta yang datang.

“Kegiatan hari ini pemasangan MKJP, jadi MKJP itu adalah metode kontrasepsi jangka panjang,” jelas Siti.

Ia menyebut, metode kontrasepsi jangka panjang yang dilayani di antaranya alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan alat kontrasepsi bawah kulit atau implan.

Siti menegaskan, KB bukan hanya mengenai menjadi akseptor kontrasepsi, tetapi bagaimana keluarga dapat merencanakan dan mengatur jarak kehamilan serta jumlah anak.

“Jadi KB itu tidak semata-mata menjadi akseptor, bagaimana keluarga merencanakan, mengatur jarak kehamilan, merencanakan jumlah anak dan sebagainya,” tutupnya.

Ara

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini