Akupedia.id, Kutai Kartanegara – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat sebanyak 105 kasus suspek Campak di wilayah Kukar hingga minggu ke-8 tahun 2026 atau akhir Februari.
Temuan tersebut berasal dari laporan sejumlah fasilitas kesehatan, baik rumah sakit maupun puskesmas di Kukar melalui sistem pemantauan penyakit menular.
Meski demikian, Ketua Tim Kerja Survei Kasus, Imunisasi, dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (SIPKLB) Dinkes Kukar, Hamdana Yunisar, menegaskan bahwa seluruh kasus tersebut masih berstatus suspek atau terduga.
“Semuanya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah benar positif campak atau tidak,” ujarnya, Senin (9/3/2026).
Ia menjelaskan, sesuai prosedur yang berlaku, pasien yang menunjukkan tanda dan gejala campak harus menjalani pengambilan sampel atau spesimen untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium rujukan.
Data kasus tersebut dihimpun melalui laporan fasilitas kesehatan yang masuk dalam sistem Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang digunakan puskesmas untuk memantau potensi kejadian penyakit menular.
Hamdana juga mengungkapkan, dari laporan yang masuk, wilayah dengan temuan kasus terbanyak berada di Kecamatan Samboja.
Salah satu fasilitas kesehatan yang melaporkan jumlah kasus cukup tinggi adalah RS Abadi Samboja.
“Kalau dari laporan SKDR, temuan paling banyak memang dari wilayah Samboja. Dari RS Abadi Samboja saja ada sekitar 38 kasus suspek,” ungkapnya.
Selain rumah sakit, beberapa puskesmas di wilayah tersebut juga melaporkan temuan kasus, di antaranya Puskesmas Samboja dengan sekitar 8 kasus, Puskesmas Sungai Merdeka sebanyak 12 kasus, serta Puskesmas Handil Baru dengan sekitar 10 kasus.
“Dibandingkan wilayah lain, laporan kasus di wilayah ini memang relatif lebih banyak,” tambahnya.
Tingginya laporan kasus di wilayah tersebut diduga berkaitan dengan mobilitas masyarakat yang cukup tinggi. Samboja merupakan wilayah pesisir sekaligus daerah perlintasan yang memiliki interaksi cukup intens dengan wilayah lain, termasuk dengan Balikpapan.
Ia juga menjelaskan bahwa kasus campak yang ditemukan di Kukar tidak hanya terjadi pada satu kelompok usia tertentu. Beberapa kasus ditemukan pada bayi, anak-anak, hingga orang dewasa.
“Kasusnya tidak hanya pada satu kelompok usia saja. Paling rawan di rentang usia 0 sampai 30 tahun,” ujarnya.
Meski demikian, bayi dan balita tetap menjadi kelompok yang paling rentan terhadap infeksi campak, terutama apabila belum mendapatkan imunisasi.
Hamdana menambahkan, imunisasi menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penularan campak di masyarakat.
“Karena itu kami mengimbau masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki bayi dan balita, agar memastikan imunisasi anak sudah lengkap sesuai jadwal,” tutupnya.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





