Tekan Enter untuk mencari

Bangkit dari Masa Sulit, Yuli Hidupkan Kembali Warisan Rasa Ibunya di Tangga Arung Square

Foto: Warung Mbak Poni yang selalu ramai pembeli.

Akupedia.id, Tenggarong – Di sudut Tangga Arung Square, sebuah warung kecil bernama Warung Mbak Poni menjadi saksi kebangkitan seorang perempuan yang menolak membiarkan warisan keluarganya hilang dimakan waktu.

Di balik dapur sederhana itu, Yuli perempuan 40 tahun asal Tenggarong menghidupkan kembali resep almarhumah ibunya, resep yang bukan sekadar racikan bumbu, tetapi juga cerita, perjuangan, dan sejarah keluarga.

Warung Mbak Poni bukanlah usaha baru. Ia adalah lanjutan dari usaha turun-temurun keluarga yang dirintis sejak awal 1990-an, ketika kawasan pasar lama Tenggarong masih sepi dan belum berkembang. Sejak kecil, Yuli tumbuh bersama aroma masakan dan hiruk-pikuk pembeli yang datang silih berganti ke warung keluarganya.

Nama warung ini pun telah melewati perjalanan panjang. Dari Madurasa, lalu berubah menjadi Suramadu, hingga akhirnya kini dikenal sebagai Warung Mbak Poni, nama yang menjadi simbol suasana baru, sekaligus penanda babak baru perjuangan keluarga.

Setelah sang ibu wafat, usaha tersebut sempat diteruskan oleh kakaknya. Namun pada 2020, di masa pandemi Covid-19, keluarga kembali diuji. Kakaknya meninggal dunia, dan usaha itu sempat berpindah tangan hingga akhirnya Yuli memutuskan untuk turun langsung menjaga warisan itu tetap hidup.

“Bukan cuma usahanya yang saya jaga, tapi rasanya,” katanya.

Semua menu yang disajikan di Warung Mbak Poni adalah resep asli almarhumah ibunya.
Tidak ada bumbu instan. Tidak ada proses cepat. Semua diolah manual, seperti yang dilakukan puluhan tahun lalu.

Setiap pagi, Yuli memasak di rumah. Ia tidak pernah menyetok bahan. Prinsipnya sederhana: masak hari ini, habis hari ini. Jika siang dagangan habis, sore ia kembali ke pasar membeli bahan lagi.

“Harga seporsi itu rata-rata Rp15 ribu, banyak menu yang kamu sediakan,” tambahnya

Bagi Yuli, menjaga rasa berarti menjaga kepercayaan pelanggan. Dan menjaga kepercayaan pelanggan berarti menjaga warisan ibunya tetap hidup.

Sebelum berada di Tangga Arung Square, Warung Mbak Poni sempat direlokasi ke Lapangan Pemuda. Di sanalah masa paling berat itu terjadi.

Hampir dua tahun berjualan, pembeli hanya datang dari sesama pedagang. Kadang pulang tanpa uang, kadang hanya cukup untuk makan, kadang bahkan tidak cukup sama sekali.

“Itu masa paling berat,” ujar Yuli singkat.

Titik balik datang saat Warung Mbak Poni pindah ke Tangga Arung Square. Sejak hari pertama membuka lapak di lokasi baru, perubahan langsung terasa.

Jika sebelumnya omzet nyaris nol, kini pendapatan meningkat hingga tiga sampai empat kali lipat. Pengunjung datang silih berganti, terutama menjelang jam makan siang dan akhir pekan. Saat ada event, warung bahkan bisa buka hingga larut malam.

Lokasi yang lebih strategis, bersih, dan nyaman membuat Warung Mbak Poni kembali hidup—bukan hanya sebagai tempat makan, tetapi sebagai ruang cerita dan perjumpaan.

Jam buka Warung Mbak Poni mengikuti kesiapan masakan. Biasanya mulai pukul 09.00–10.00 pagi dan tutup ketika dagangan habis.

“Kadang ramai, kadang sedang. Namun hampir tidak pernah benar-benar sepi,” ujarnya.

Bagi Yuli, Warung Mbak Poni bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ia adalah ruang menjaga warisan dan menjaga cerita keluarga.

Di sudut Tangga Arung Square, warung kecil itu kini kembali hidup, bukan hanya sebagai usaha, tetapi sebagai simbol kebangkitan, ketekunan, dan cinta seorang anak pada warisan ibunya.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini