Akupedia.id, Tenggarong – Usai beredarnya informasi di media sosial yang mengatakan terjadi kekosongan obat di Puskesmas Tabang, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) pun angkat bicara.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) Kukar, Waode Nuraida, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar. Pihaknya memastikan ketersediaan obat di Puskesmas Tabang maupun seluruh puskesmas di Kukar dalam kondisi aman dan mencukupi.
“Kalau dibilang obat tidak ada, itu tidak betul. Untuk seluruh puskesmas di Kukar, termasuk Tabang, ketersediaan obat selalu cukup dan tidak pernah mengalami kekurangan,” tegasnya saat ditemui diruangannya, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, distribusi obat dari Dinkes selama ini berjalan normal. Bahkan, anggaran pengadaan obat masih tersedia, sehingga tidak memungkinkan terjadi kekosongan seperti yang beredar di media sosial.
Ia menjelaskan, munculnya informasi tersebut diduga akibat kesalahpahaman dan penyampaian yang tidak utuh. Pasalnya, kondisi yang sebenarnya terjadi di Puskesmas Tabang adalah keterbatasan tenaga dokter, bukan pada stok obat.
“Kalau dokter memang tidak ada, itu benar. Tapi kalau obat dibilang tidak tersedia, itu keliru dan perlu diluruskan,” ujarnya.
Klarifikasi ini juga telah disampaikan kepada pihak kecamatan yang sebelumnya sempat berasumsi adanya kekurangan obat. Setelah dilakukan penjelasan, ditegaskan bahwa stok obat tetap aman dan pelayanan dasar kepada masyarakat masih berjalan.
Di sisi lain, Dinkes Kukar turut mendorong masyarakat untuk memanfaatkan program Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai penanganan awal untuk keluhan ringan. Program ini menjadi pelengkap dalam pelayanan kesehatan dan telah lama dikembangkan sebagai bagian dari pendekatan kesehatan berbasis masyarakat.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila kondisi tidak membaik atau membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
Dinkes Kukar juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta mengedepankan sumber resmi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Yang perlu dipahami, bukan obat yang bermasalah, tetapi memang tenaga dokter yang masih terbatas. Ini yang sedang kami upayakan,” tutupnya.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





