Kisah Haru Hakim Selamat dari Banjir Berkat Bantuan Tahanan yang Pernah Divonisnya

Hakim PN Kuala Simpang, Aceh Tamiang, bernama Kisty Widyastuti (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Akupedia.id, Aceh Tamiang — Pengalaman yang tak akan pernah dilupakan oleh Hakim Pengadilan Negeri Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Kisty Wisyastuti. Selama enam hari ia terjebak banjir besar yang melanda wilayah itu, berpindah dari satu tempat pengungsian ke tempat lainnya sambil bertahan hidup dalam kondisi serba terbatas. Di tengah situasi genting tersebut, pertolongan justru datang dari sosok-sosok yang tak pernah ia duga: empat narapidana yang pernah berhadapan dengannya di ruang sidang.

Banjir mulai menggenangi wilayah Aceh sejak Rabu (26/11/2025). Hari itu, seperti biasa, Kisty bersiap berangkat ke kantornya. Namun pesan dari rekan-rekan yang tidak bisa masuk kerja karena rumah mereka sudah terendam membuatnya waspada. Ketika atap rumah dinasnya mulai bocor, ia memutuskan mengungsi ke kediaman pimpinan. Malam harinya listrik padam total, meski belum tampak genangan air. Keesokan paginya, pemandangan berbeda tersaji di layar ponselnya: kantor tempat ia bekerja sudah terendam hingga lantai satu.

Baca juga  DPD PDI Perjuangan Kaltim Turut Memperingati HUT ke-77 Kemerdekaan RI Dengan Upacara dan Perlombaan

Kisty dan beberapa pegawai PN Kuala Simpang memutuskan mengecek kondisi kantor secara langsung. Namun saat meninggalkan rumah dinas, air sudah setinggi lutut dan hujan turun deras. Warga yang mereka temui memperingatkan bahwa genangan di sekitar kantor telah mencapai leher orang dewasa, namun mereka tetap bersikeras melanjutkan perjalanan. Baru setengah jalan, arus deras membuat mereka sulit berdiri hingga akhirnya memutuskan kembali sambil menahan tangis ketakutan.

Di tengah kepanikan warga yang sibuk menyelamatkan diri, mereka bertemu dengan empat narapidana yang masih mengenakan seragam bertuliskan “warga binaan”. Para napi itu langsung menghampiri dan melarang mereka menembus banjir menuju kantor.

“Mereka mengarahkan kami ke sebuah boat dan membantu proses evakuasi,” kata Kisty. Ia mengenali mereka, bahkan salah satunya adalah napi yang pernah ia vonis dalam kasus pencurian sawit. Rasa takut sempat menyelinap, namun sirna ketika menyadari para narapidana itu benar-benar tulus menolongnya.

Baca juga  Napi Terdampak Banjir Sumatra Diberi Remisi, Pemerintah Minta Jangan Dicari Dulu

Evakuasi menuju tempat aman bukan tanpa rintangan. Mereka sempat ditolak mengungsi di sebuah kafe berlantai empat, sebelum akhirnya berhasil masuk ke kantor Bank Syariah Indonesia (BSI) yang dibuka untuk para pengungsi. Di sana, kondisi serba gelap tanpa listrik. Mereka tidur beralas spanduk, berbagi air mineral, dan makan mi instan mentah hanya empat bungkus untuk empat orang.

Selama mengungsi, situasi semakin mencekam. Banyak warga yang terpaksa menjarah makanan demi bertahan hidup. Di BSI, para pengungsi memasak beras hasil sitaan warga lain menggunakan kayu dari kursi yang dipatahkan karena hujan tak kunjung berhenti. Bantuan dari pemerintah tak kunjung tiba.

Memasuki hari ketiga, banjir mulai surut dan mereka memutuskan kembali menuju Pengadilan Negeri Kuala Simpang untuk kemudian mengungsi di rumah pegawai. Dari sana, mereka mencari tahu akses menuju Medan dan menemukan satu-satunya rute aman melalui Salahaji. Pada Senin pagi, mereka dijemput truk sawit bak terbuka lalu menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan kapal kayu menuju Pangkalan Susu, Langkat.

Baca juga  Korban Banjir Sumatra Terus Bertambah, BNPB Catat 940 Jiwa Meninggal dan Ratusan Masih Hilang

Setelah dua jam mengarungi sungai menggunakan sampan tradisional dan akhirnya mendapatkan sinyal telepon, Kisty langsung menghubungi keluarga. Ia dijemput dan dibawa pulang ke Medan dengan selamat.

Bagi Hakim Kisty, peristiwa itu meninggalkan pelajaran mendalam. Ia menyaksikan bagaimana empati dan solidaritas tidak mengenal status sosial, bahkan datang dari orang-orang yang pernah duduk sebagai terdakwa di hadapannya.

“Dari kejadian ini saya belajar, betapa pentingnya saling membantu dan melindungi satu sama lain,” ujarnya.

Berita Lainnya