Korban Banjir Sumatera Terus Bertambah: 867 Meninggal, 521 Hilang, Hampir 850 Ribu Warga Mengungsi

Akupedia.id – Jumlah korban jiwa akibat rangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat kembali meningkat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 867 orang meninggal dunia, atau bertambah 91 orang dibandingkan data sehari sebelumnya.

“Total di tiga provinsi ini, 867 korban meninggal dunia,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers, Jumat (5/12).

Ia menjelaskan, korban meninggal tersebar di tiga provinsi: 312 orang di Sumatera Utara, 345 orang di Aceh, dan 210 orang di Sumatera Barat. Selain itu, sebanyak 521 orang masih dinyatakan hilang, terdiri dari 133 orang di Sumatera Utara, 174 orang di Aceh, dan 214 orang di Sumatera Barat.

Lebih dari 849 Ribu Warga Mengungsi

BNPB juga merilis jumlah warga yang terpaksa meninggalkan rumah akibat bencana besar ini. Di Sumatera Utara, terdapat 51.443 jiwa yang mengungsi, disusul 775.342 jiwa di Aceh, dan 22.354 jiwa di Sumatera Barat.

Baca juga  Momen Berkesan Rahmat Dermawan di Bimtek dan Pelatihan DPC PDI-Perjuangan Kukar

“Total pengungsi yang terdata di posko 849.193,” tegas Muhari.

Dengan hampir 850 ribu warga berada di tempat pengungsian, pemerintah pusat dan daerah disebut perlu mempercepat distribusi bantuan serta memastikan fasilitas dasar seperti air bersih, makanan, dan layanan kesehatan tersedia secara memadai.

Tiga Faktor Penyebab Banjir Bandang Besar di Sumatera

Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi sejak 24 November 2025 di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan hanya dipicu oleh tingginya intensitas hujan.

Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, menjelaskan bahwa bencana besar ini terjadi akibat interaksi tiga faktor utama, yakni:

  1. Atmosefer sangat aktif pada puncak musim hujan wilayah Sumatera bagian utara.
  2. Kerusakan lingkungan yang mengurangi daya serap tanah.
  3. Penurunan kapasitas tampung wilayah, terutama pada daerah tangkapan air.
Baca juga  DPD PDIP Kaltim Gelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila

Ia menyebutkan bahwa Sumatera bagian utara memang sedang memasuki puncak musim hujan yang memiliki pola berbeda dari wilayah lain di Indonesia. Curah hujan mencapai lebih dari 150 milimeter per hari, bahkan beberapa stasiun BMKG mencatat intensitas hujan di atas 300 milimeter, mendekati kondisi ekstrem yang pernah menyebabkan banjir besar di Jakarta tahun 2020.

Selain itu, pada 24 November terlihat pembentukan vortex di Semenanjung Malaysia yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Meski tidak sekuat siklon di Samudra Hindia, fenomena ini cukup untuk meningkatkan suplai uap air dan memperluas pembentukan awan hujan.

“Cold surge vortex dan sistem skala meso juga berperan, sehingga presipitasi meningkat signifikan,” jelasnya.

Baca juga  Korban Bencana di Sumatera Terus Bertambah, 753 Meninggal dan 650 Masih Dicari

Dampak Diperparah Kerusakan Ekologi

Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menegaskan bahwa besarnya kerusakan bukan hanya dipicu hujan ekstrem, tetapi juga kemampuan wilayah yang kian berkurang dalam menahan air.

“Banjir bukan hanya soal hujan. Ini soal bagaimana air diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perubahan fungsi lahan dari hutan ke permukiman, perkebunan intensif, hingga lahan terbuka menghilangkan kemampuan alam dalam menahan limpasan air.

“Ketika kawasan penahan air alami hilang, limpasan meningkat tajam. Air langsung masuk ke sungai dan memicu banjir,” katanya.

Heri juga menilai peta bahaya banjir Indonesia masih belum akurat karena keterbatasan data geospasial dan pemodelan yang belum komprehensif. Ia menekankan bahwa perencanaan tata ruang berbasis risiko sangat penting untuk mencegah bencana serupa terjadi kembali.

Berita Lainnya