Viral Ikon Pesut Muara Muntai, Dibangun Swadaya Warga dengan Dana Hanya Rp350 Ribu

Foto: Patung Pesut Mahakam yang ada di Desa Muara Muntai Ulu.

Akupedia.id,Tenggarong – Patung Pesut Mahakam yang kini menjadi ikon Desa Muara Muntai Ulu, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sukses menyita perhatian publik.

Ikon desa tersebut viral di media sosial dan menjadi perbincangan luas, tidak hanya di Kalimantan Timur, tetapi juga secara nasional. Menariknya, patung setinggi hampir dua meter itu diketahui hanya dibangun dengan dana sekitar Rp350 ribu.

Kepala Desa Muara Muntai Ulu, Husain Ahmad, mengaku kaget sekaligus bangga melihat respons publik terhadap ikon desa tersebut.

“Alhamdulillah, ternyata bisa viral sampai seluruh Indonesia,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Senin (9/2/2026) sore.

Husain menjelaskan, pembuatan patung pesut Mahakam berawal dari inisiatif seorang tukang bangunan yang saat itu tengah mengerjakan pembangunan pelantaran masjid desa. Ide tersebut muncul saat yang bersangkutan beristirahat setelah bekerja, lalu disampaikan kepadanya dan langsung mendapat persetujuan.

Baca juga  Desa Saliki Kembangkan Ekowisata Mangrove, Jaga Lingkungan dan Ekonomi

“Saat istirahat setelah bekerja, ia mendapat inspirasi untuk membuat sebuah ikon desa berupa pesut Mahakam,” terangnya.

Pemilihan pesut Mahakam sebagai ikon desa didasari oleh kondisi lingkungan Sungai Mahakam yang melintasi wilayah Muara Muntai. Satwa endemik tersebut diketahui sering muncul di perairan sekitar desa, namun kini keberadaannya semakin langka, sehingga patung ini juga dimaknai sebagai simbol kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.

Dari sisi pendanaan, Husain menegaskan bahwa pembangunan patung tersebut tidak menggunakan dana desa maupun anggaran pemerintah. Seluruh proses dilakukan secara swadaya, dengan bahan utama berasal dari material bekas pembangunan pelantaran masjid.

Baca juga  Mengangkat Peran Perempuan Kepala Keluarga, Sosialisasi PEKKA di Kukar

“Dana pribadi hanya digunakan untuk membeli mesin pompa air yang mengalirkan air dari mulut patung, nilainya sekitar Rp350 ribu,” jelasnya.

Patung tersebut dibuat menggunakan bahan sederhana seperti semen, pasir, besi, dan styrofoam bekas. Styrofoam digunakan sebagai rangka dasar, kemudian dilapisi semen untuk membentuk struktur patung. Proses pengerjaan berlangsung relatif singkat, sekitar dua hingga tiga hari, dan dilakukan di sela-sela waktu kerja.

Sementara itu, Joko Saptono (56), warga asal Trenggalek, Jawa Timur, yang menjadi pembuat patung tersebut, mengaku bahwa karya itu dibuat secara sukarela sebagai bentuk kontribusi pribadi untuk desa tempat ia tinggal dan bekerja.

Baca juga  Hari Pahlawan di Kukar, Upacara Khidmat dan Kepedulian bagi Janda Veteran

“Saya diterima dengan baik di sini. Sehari-hari saya bekerja sebagai kuli bangunan dan sudah hampir 10 tahun tinggal di Muara Muntai,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa selama proses pembuatan patung, tidak ada kendala berarti yang dihadapi.

“Kalau kendala tidak ada. Biasanya buatnya waktu hujan atau waktu istirahat,” tambahnya.

Kehadiran patung pesut Mahakam ini kini tidak hanya menjadi ikon visual Desa Muara Muntai Ulu, tetapi juga simbol kuat semangat swadaya, kepedulian lingkungan, dan kreativitas warga.

Dari proses sederhana dan dana terbatas, lahir sebuah karya yang justru mampu menarik perhatian publik secara nasional serta mengangkat nama desa ke tingkat yang lebih luas.

Ara

Berita Lainnya