Pemkab Kukar Kawal Ketat Upaya Prasasti Yupa Menuju Memory of the World UNESCO

Prasasti Yupa asal Muara Kaman, Kukar diusulkan jadi Memory of World UNESCO (Antara)

Akupedia.id, Kutai Kartanegara — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus mengintensifkan langkah pengusulan Prasasti Yupa ke dalam daftar Memory of the World UNESCO. Komitmen ini ditegaskan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Puji Utomo, usai menghadiri pembukaan Festival Museum Kayu Tuah Himba, Kamis (27/11/2025).

Puji menekankan bahwa Prasasti Yupa merupakan salah satu bukti sejarah paling awal yang menandai lahirnya peradaban di Nusantara. Ia menyebut, Yupa bukan hanya milik Kutai atau Kalimantan Timur, tetapi bagian penting dari jejak sejarah Indonesia.

Baca juga  Pekan Pesta Rasa 2025 Resmi Dimulai, Pemkab Kukar Tegaskan Komitmen Dorong UMKM Naik Kelas

“Versi sejarah bisa saja berbeda, tetapi data tidak pernah bohong. Yupa adalah data paling otentik tentang perkembangan peradaban awal Indonesia. Inilah yang harus kita perjuangkan agar diakui dunia melalui UNESCO,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa proses menuju pengakuan internasional itu sudah berjalan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Salah satu langkah strategis adalah pertemuan lintas lembaga di Yogyakarta, yang disebutnya memberi sinyal positif terhadap kelanjutan pengajuan Yupa ke UNESCO.

Baca juga  Enam Sumber Retribusi Dishub Kukar Bakal Sumbang Rp3,3 Miliar di Tahun 2023

Menurut Puji, status Memory of the World tidak hanya memberikan prestise global, tetapi juga berdampak langsung pada penguatan riset, edukasi sejarah, serta upaya pelestarian budaya di Kutai Kartanegara.

Dalam rangkaian penguatan itu, dua direktur jenderal kebudayaan dijadwalkan mengunjungi Desa Budaya Kedang Ipil. Kehadiran mereka disebut mencerminkan atensi pemerintah pusat terhadap kekayaan sejarah yang dimiliki Kukar.

Baca juga  Pemkab Kukar Tegaskan Beasiswa Idaman Tahap II Sudah Tersalurkan, 4.015 Rekening Selesai Diproses

“Kami ingin masyarakat, terutama pelajar, memahami bahwa mempelajari Yupa berarti mempelajari identitas bangsa. Melestarikan Yupa bukan hanya menjaga benda, tetapi menjaga siapa kita sebagai bangsa,” tegas Puji menutup keterangan.

(Arf)

Berita Lainnya