Mengapa Henti Jantung Bisa Membuat Bibir Membiru? Ini Penjelasan Medisnya

Ilustrasi orang dengan gejala henti jantung. Penyebab henti jantung mendadak adalah terjadinya perubahan pada aktivitas listrik jantung, yang mana itu bisa didasari oleh banyak hal.(Shutterstock/P.KASIPAT

Akupedia.id – Perubahan warna bibir menjadi biru hingga keunguan sering terlihat dalam situasi darurat medis, termasuk saat seseorang mengalami henti jantung. Tanda yang tampak sederhana ini sebenarnya menjadi indikator penting adanya gangguan serius dalam tubuh, terutama yang berkaitan dengan suplai oksigen dan kelancaran aliran darah.

Dokter spesialis jantung dari Siloam Hospital, dr. Vito Damay, menjelaskan bahwa perubahan warna tersebut terjadi karena kadar oksigen dalam darah turun secara drastis ketika jantung tidak lagi mampu memompa darah dengan efektif. Saat henti jantung berlangsung, peredaran darah praktis terhenti sehingga oksigen tidak dapat dibawa ke paru-paru untuk diproses maupun diedarkan ke jaringan tubuh.

“Ketika jantung berhenti memompa, darah tidak bergerak sebagaimana mestinya. Akibatnya, distribusi oksigen ke seluruh tubuh terhenti,” jelas dr. Vito.

Baca juga  8 Tips Puasa Tetap Lancar Bagi Penderita Maag

Dalam kondisi normal, darah yang kaya oksigen memiliki warna merah terang. Sebaliknya, darah yang kekurangan oksigen berwarna lebih gelap. Perbedaan warna inilah yang kemudian tampak dari luar tubuh sebagai perubahan warna kebiruan atau keunguan, terutama di area tertentu.

Bibir menjadi bagian yang paling mudah menunjukkan gejala ini karena memiliki banyak pembuluh darah kecil serta lapisan kulit yang relatif tipis. Kondisi tersebut membuat perubahan kadar oksigen dalam darah lebih cepat terlihat dibandingkan pada bagian tubuh lain.

“Bibir sangat sensitif terhadap perubahan oksigen dalam darah, sehingga gejalanya lebih cepat tampak di sana,” ujarnya.

Baca juga  Ronaldo Buktikan Diri Masih Tajam, Portugal Melaju ke Final Nations League

Selain faktor rendahnya oksigen, penurunan aliran darah ke kulit juga berkontribusi besar. Dalam kondisi darurat seperti henti jantung atau syok akibat tekanan darah turun drastis, tubuh secara refleks memprioritaskan aliran darah ke organ vital seperti jantung dan otak. Konsekuensinya, aliran darah ke kulit dan ujung-ujung tubuh, termasuk bibir dan jari, menjadi berkurang.

“Tubuh akan mengalihkan aliran darah dari kulit untuk menjaga fungsi organ penting tetap berjalan,” terang dr. Vito.

Gabungan antara darah yang miskin oksigen dan minimnya aliran darah ke permukaan tubuh inilah yang membuat bibir tampak biru atau keunguan, bahkan terasa lebih dingin saat disentuh. Pada kondisi yang lebih berat, gejala ini bisa disertai kulit pucat, lembap, serta keringat dingin.

Baca juga  Tasyi Temukan Kutu di Bika Ambon Milik Ci Mehong, Ci Mehong Bantah Keras

Secara medis, perubahan warna kebiruan tersebut dikenal sebagai sianosis. Kondisi ini termasuk tanda bahaya karena menunjukkan jaringan tubuh tidak memperoleh oksigen yang cukup untuk menjalankan fungsinya secara normal.

Dokter menegaskan bahwa bibir yang membiru atau keunguan tidak boleh dianggap sepele, terlebih bila disertai keluhan lain seperti sesak napas, nyeri dada, pusing hebat, atau penurunan kesadaran. Situasi tersebut memerlukan penanganan medis darurat karena berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa pasien.

Penanganan cepat sangat penting untuk mengembalikan sirkulasi dan suplai oksigen, sehingga risiko kerusakan organ vital dapat diminimalkan.

Berita Lainnya