Akupedia.id, Tenggarong – Kepulangan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Jusuf Hamka, ke Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi momentum untuk kembali menjalin kedekatan dengan tanah kelahirannya. Di sela kunjungannya, ia menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Selasa (3/11/2026).
Kedatangan Jusuf Hamka atau yang akrab disapa Abah Alun itu disambut hangat oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI, Sultan Aji Muhammad Arifin, beserta jajaran Kesultanan di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara.
Bagi Jusuf Hamka, kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi. Ia menganggap sowan kepada Sultan dan Pangeran merupakan bagian dari adab yang harus dijaga sebagai putra daerah, terlebih dirinya memiliki ikatan sejarah dengan sejumlah wilayah di Kaltim.
“Saya harus sowan kepada Sultan dan Pangeran karena biar bagaimana saya cikal bakalnya dari dulu di Kecamatan Damai, bahkan di Longiram pun pernah, di Tering, di Kelian saya pernah,” ungkapnya.
Ia menilai, sebagai putra Kaltim, menjaga hubungan dengan Kesultanan menjadi bagian dari upaya menghormati sejarah, adat, dan adab yang telah tumbuh di daerah tersebut.
Di balik pertemuan itu, Jusuf Hamka juga membawa perhatian terhadap posisi Kesultanan Kutai Kartanegara di tengah perkembangan ekonomi Kaltim, khususnya sektor pertambangan yang selama ini menjadi salah satu penopang perekonomian daerah.
Menurutnya, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Kaltim semestinya dapat memberikan manfaat lebih luas, termasuk bagi Kesultanan yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan daerah.
Ia mengaku sempat menanyakan kepada Sultan dan Pangeran mengenai keterlibatan Kesultanan dalam sektor pertambangan. Namun, jawaban yang diterimanya justru menggambarkan posisi Kesultanan yang belum mendapatkan manfaat sebagaimana diharapkan.
“Hari-hari kami lihat ribuan tongkang, ribuan di Sungai Mahakam. Lalu kami tanyakan kepada Pangeran dan Sultan, apakah Kesultanan ada tambang atau apa? Tidak. Beliau menjawab, ‘Kami hanya jadi penonton.’ Penonton,” tuturnya.
Jusuf Hamka mengaku prihatin mendengar kondisi tersebut. Terlebih, Kesultanan Kutai Kartanegara memiliki sejarah besar dalam perjalanan Kaltim, termasuk ketika menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ia menilai, pengorbanan dan kontribusi Kesultanan dalam perjalanan bangsa seharusnya mendapat perhatian, terutama dalam upaya menjaga keberlangsungan adat dan budaya sekaligus memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.
“Di mana hati ini tidak sedih? Kita lihat ormas-ormas keagamaan semua dapat. Sultan loh yang menyatakan bergabung dengan NKRI pada tahun 1960. Dan ini harusnya harta kekayaannya ini milik Sultan tapi beliau mengorbankan untuk bergabung tapi tidak diperhatikan,” katanya.
Aspirasi tersebut, lanjut Jusuf Hamka, menjadi salah satu pesan yang disampaikan Sultan kepadanya untuk diteruskan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Ia berharap, pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada Kesultanan, termasuk membuka kesempatan agar dapat ikut merasakan manfaat dari pengelolaan sumber daya alam di daerah.
“Beliau berpesan kepada saya, ‘Tolong sampaikan komunikasikan kepada Bapak Presiden.’ Ya, mudah-mudahan selain melestarikan adat dan budaya dan kesultanan yang ada di Kalimantan Timur atau di daerah-daerah lain, tentunya kalau ada pertambangan-pertambangan lebih perhatikanlah kesultanan-kesultanan itu juga jangan jadi penonton saja tetapi juga bisa ikut menerima manfaatnya,” ujarnya.
Menurutnya, pemerataan kesejahteraan seharusnya tidak hanya dirasakan oleh kelompok atau lembaga tertentu, tetapi juga dapat menjangkau Kesultanan yang memiliki akar sejarah dan kontribusi terhadap daerah.
Ia pun menilai, sudah saatnya putra-putra daerah mendapatkan kesempatan lebih besar untuk terlibat dan menikmati manfaat dari kekayaan sumber daya alam di wilayahnya.
“Daerah ini daerah yang gemah ripah loh jinawi. Kenapa harus ada orang luar, bahkan ada orang asing? Kenapa enggak dikasih putra-putra daerah? Sudah saatnya,” ucapnya.
Jusuf Hamka meyakini Presiden Prabowo Subianto memiliki perhatian terhadap pemerataan kesejahteraan rakyat. Karena itu, ia berharap aspirasi Kesultanan Kutai Kartanegara dapat menjadi bagian dari kebijakan pemerintah ke depan.
“Mudah-mudahan dengan konsep beliau pemerataan bagi seluruh rakyat Indonesia dampaknya nanti akan memberikan kesempatan kepada daerah-daerah yang terutama kesultanan bisa mendapatkan juga tambang-tambang seperti ormas-ormas keagamaan ini,” harapnya.
Sementara itu, Juru Bicara Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Pangeran Hario Noto Negoro, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Jusuf Hamka yang dinilainya menunjukkan penghormatan terhadap adat dan adab Kesultanan.
Ia menyebut, kedatangan Jusuf Hamka menjadi kehormatan bagi Kesultanan, terlebih sebagai tokoh asal Kaltim yang telah berkiprah dan meraih kesuksesan di Jakarta, namun tetap mengingat sejarah dan akar daerahnya.
“Alhamdulillah hari ini, seorang tokoh Kaltim yang dipercaya oleh Bapak Presiden sebagai Wantimpres itu berkunjung silaturahmi dengan Ayahanda Sultan. Beliau ini menjunjung tinggi salah satu dari adab yang mana di Kesultanan itu ada adat, ada adab,” ujarnya.
Pangeran Hario Noto Negoro berharap, melalui kedekatan tersebut, Jusuf Hamka dapat ikut memperjuangkan aspirasi Kesultanan, termasuk menjaga keberlangsungan lingkungan serta adat dan budaya di Kutai Kartanegara.
Ia mengingatkan, wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa lalu mencakup delapan kabupaten dan kota. Bahkan, kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) saat ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Kesultanan.
“Buat Pak Jusuf Hamka atau Abah Alun, terima kasih atas kunjungannya hari ini. Mudah-mudahan Bapak bisa memperjuangkan hak-hak yang ada di Kaltim, menjaga keberlangsungan lingkungan, apalagi Kutai Kartanegara ini yang dulu wilayahnya delapan kabupaten kota itu adalah wilayah Kesultanan,” tuturnya.
Ia berharap, perhatian terhadap Kesultanan tidak hanya berkaitan dengan manfaat ekonomi, tetapi juga mencakup upaya menjaga kelestarian lingkungan, adat, dan budaya yang menjadi bagian dari identitas Kutai Kartanegara.
“Dan kita berharap beliau bisa memperjuangkan dan terus bagaimana menjaga lingkungan kita itu tetap lestari, baik itu adat dan budayanya,” pungkasnya.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





