Tambak Ikan Nila di Ponoragan Gagal Panen, Warga Minta Perhatian Pemerintah

Kepala Desa Ponoragan, Sarmin

Akupedia.id, KUTAI KARTANEGARA – Luapan Sungai Mahakam yang diperparah oleh tingginya curah hujan kembali menimbulkan persoalan serius bagi masyarakat pesisir sungai. Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Desa Ponoragan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Banjir yang terjadi dalam beberapa hari terakhir merendam kawasan tambak warga, termasuk tambak pembibitan ikan nila yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi desa. Akibatnya, para pembudidaya harus menelan pil pahit lantaran gagal panen.

Data pemerintah desa menyebutkan, sedikitnya 125 hektare tambak milik dua gabungan kelompok pembudidaya ikan (gapokdakan) di Ponoragan terdampak langsung. Kerugian yang dialami sangat besar, mengingat desa ini dikenal sebagai salah satu sentra pembibitan ikan nila air tawar terbesar di Kalimantan Timur.

Baca juga  Desa Bangun Rejo Rancang Taman Terpadu, Wujudkan Ruang Publik Ramah Warga dan Pusat UMKM Lokal

Kepala Desa Ponoragan, Sarmin, mengungkapkan kegelisahan warganya yang kini hanya bisa menunggu uluran tangan pemerintah. Menurutnya, para petani ikan tidak menuntut banyak, tetapi setidaknya ada perhatian dan solusi nyata dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

“Tidak terlalu banyak yang kami minta, cukup ada perhatian dari pemerintah. Desa Ponoragan ini selama bertahun-tahun sudah dikenal sebagai penghasil bibit ikan nila terbesar di Kaltim. Kalau tidak cepat dibantu, dampaknya bisa meluas,” jelasnya.

Sarmin menambahkan, salah satu kebutuhan mendesak para pembudidaya adalah indukan ikan nila lokal berkualitas. Hal ini diperlukan agar siklus pembibitan dapat segera dipulihkan dan pasokan bibit ke berbagai wilayah, khususnya keramba-keramba di sepanjang Sungai Mahakam, tidak terganggu.

Baca juga  Bupati Kukar Lantik 12 Anggota BPD PAW, Dorong Tata Kelola Desa yang Transparan

“Kualitas anakan sangat menentukan. Pembudidaya keramba di Mahakam banyak menggantungkan pasokan bibit dari Ponoragan. Kalau suplai terhenti, mereka juga akan kesulitan,” tegasnya.

Bagi Ponoragan, budidaya ikan nila bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan tulang punggung ekonomi desa. Diperkirakan sekitar 60 persen warga menggantungkan hidup dari tambak nila, sementara sisanya bertani, berkebun hortikultura, atau beternak. Karena itu, banjir kali ini bukan hanya menghentikan siklus panen, tetapi juga mengancam kestabilan ekonomi desa secara menyeluruh.

“Selama ini kami dikenal sebagai sentra bibit nila terbaik di Kaltim. Kami tidak ingin kepercayaan itu hilang hanya karena bencana. Kalau tidak segera ada langkah pemulihan, kerugiannya bisa jauh lebih besar,” lanjut Sarmin.

Baca juga  Pertanian dan Pemuda: Ajakan DPRD Kaltim untuk Masa Depan Ketahanan Pangan

Selain masalah ekonomi, kerugian ini juga berpotensi menimbulkan dampak sosial. Banyak keluarga pembudidaya yang selama ini mengandalkan pemasukan harian dari tambak kini kehilangan sumber utama pendapatan. Kondisi tersebut menambah tekanan psikologis masyarakat yang sudah terbiasa hidup dengan risiko banjir, namun kali ini dirasakan lebih berat karena menghantam sektor paling vital.

Warga berharap, pemerintah daerah bisa segera turun tangan dengan program tanggap darurat maupun bantuan khusus untuk pembudidaya ikan. Kehadiran indukan berkualitas, perbaikan sarana tambak, serta pendampingan teknis dianggap menjadi langkah penting agar Ponoragan tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai pusat pembibitan ikan nila di Kalimantan Timur. (Adv/Arf)

Berita Lainnya