Tekan Enter untuk mencari

Rumah Hangus, Ayah Tiada, Aulia Pastikan Masa Depan Anak Korban Kebakaran di Tenggarong Tak Ikut Musnah

Foto: Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri.

Akupedia.id, Tenggarong – Malam itu, api bukan hanya melalap rumah di Jalan Kartini, Gang Karya, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong. Musibah yang terjadi Selasa (13/10/2026) malam itu juga merenggut nyawa dua bocah kakak beradik, Ahmad Ali Maulidya (7) dan Husin Taufiqqurahman (3).

Sehari kemudian, ayah mereka, Hamri Noor, menyusul kepergian kedua buah hatinya setelah berjuang melawan luka bakar serius di rumah sakit, meninggalkan istri dan dua anaknya, kakak Ahmad dan Husin.

Dalam hitungan hari, keluarga itu menghadapi duka dan kehilangan yang begitu besar. Kepergian tiga anggota keluarga tersebut meninggalkan luka yang tak mungkin dipulihkan hanya dengan membangun kembali rumah yang terbakar.

Di tengah kenyataan pahit itu, Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, membawa perhatian pada masa depan anak-anak yang terdampak musibah tersebut.

Aulia mengatakan, pemerintah daerah memastikan pendidikan dan cita-cita anak korban tidak terhambat oleh musibah yang telah mengubah kehidupan keluarga mereka.

“Kita ingin memastikan kepada anak korban, pertama, cita-citanya itu tidak terhalang gara-gara kejadian ini,” kata Aulia, saat meninjau lokasi kebakaran, Minggu (18/10/2026).

Bagi keluarga yang ditinggalkan, kehilangan tak berhenti ketika kobaran api padam. Ada kehidupan yang harus kembali ditata, ada kesedihan yang membutuhkan waktu, dan ada masa depan anak-anak yang tetap harus diperjuangkan di tengah keadaan yang berubah.

Aulia menyadari, pemulihan korban bukan semata-mata soal bantuan materi. Trauma akibat musibah, terlebih kehilangan orang yang dicintai, juga membutuhkan perhatian serius.

“Kita berusaha untuk merecovery. Karena kita yakin dan percaya bahwa trauma itu pasti ada,” ujarnya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, telah mendatangkan psikolog untuk membantu anak-anak korban menghadapi dampak psikologis setelah kebakaran. Pendampingan tersebut diharapkan membantu mereka melewati masa sulit dan perlahan kembali menjalani kehidupan.

Aulia juga mengingatkan bahwa kepedulian terhadap korban harus disertai kepekaan. Kedatangan banyak orang dengan niat memberikan dukungan belum tentu selalu membuat korban merasa nyaman, terutama jika mereka terus-menerus ditanya mengenai kejadian yang menyakitkan.

“Bagi kita, mengunjungi beliau itu mungkin membantu. Tapi bagi yang bersangkutan, beliau merasa risih dengan banyaknya orang datang, menanya-nanya dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Karena itu, menurut Aulia, pendampingan harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi korban. Mereka membutuhkan bantuan, tetapi juga ruang untuk memulihkan diri tanpa terus dibebani dengan pertanyaan mengenai musibah yang dialami.

Di sisi lain, perhatian terhadap pendidikan menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan tersebut.

Beasiswa yang akan diupayakan pemerintah daerah diharapkan menjadi bentuk dukungan agar anak-anak terdampak tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan meraih masa depan.

Aulia pun menegaskan, ia ingin anak-anak korban mampu bangkit dan meneruskan cita-cita yang pernah dititipkan orang tua mereka.

“Kita akan berusaha untuk membuat anak-anak korban bisa bangkit dan bisa menggapai cita-cita sebagaimana yang diamanahkan oleh ayahnya dulu sebelum meninggal,” tutupnya.

Ucapan itu pun menjadi penegasan, bagi mereka yang kehilangan orang tercinta, jalan untuk kembali menata kehidupan mungkin tidak mudah. Karena itu, dukungan pemerintah dan lingkungan sekitar menjadi penting agar mereka tidak harus menghadapi semuanya sendirian. (Adv/Diskominfo Kukar)

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Editor: Aditya Lesmana

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini