Akupedia.id, Tenggarong – Suasana Siang hari di Kecamatan Sangasanga terasa sangat berbeda, Sabtu (28/3/2026). Di tengah momen halal bihalal, ratusan warga berkumpul, bukan sekadar bersilaturahmi, tetapi menyaksikan kisah mereka sendiri dalam film dokumenter “Penyambung Lidah Rakyat.”
Tawa, tepuk tangan, hingga isak haru bergantian mengisi Aula Green House 99. Beberapa warga tampak tak mampu menyembunyikan emosi saat adegan demi adegan menampilkan realitas kehidupan yang begitu dekat dengan keseharian mereka.
Film dokumenter sosok Rahmat Dermawan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), ini bukan sekadar dokumentasi politik. Ia menjadi cermin bagi masyarakat, yang memperlihatkan perjalanan, perjuangan, sekaligus suara warga pesisir yang selama ini jarang terdengar.
“Di sepanjang film tadi banyak masyarakat yang histeris, ada juga yang haru. Karena memang peristiwa yang ditampilkan itu nyata, mereka bagian dari cerita itu,” ujar Rahmat.
Bagi warga, pengalaman menonton film ini terasa begitu personal. Salah satunya disampaikan oleh sekelompok ibu-ibu dari Kelurahan Pendingin yang hadir dalam kegiatan tersebut.
“Senang sekali hari ini, suasananya hangat. Kami juga dikasih souvenir, pokoknya bahagia,” ujar salah satu warga.
Mereka menilai, apa yang ditampilkan dalam film sejalan dengan apa yang mereka rasakan selama ini.
“Dari anggota yang lain, mungkin baru beliau yang mendokumentasikan kegiatannya seperti ini. Sesuai dengan apa yang beliau sampaikan, dan sejauh ini bukan cuma omong kosong,” ungkapnya.
Perubahan paling terasa, kata mereka, adalah pada akses jalan yang kini jauh lebih baik, dimana Kelurahan Pendingin menuju ke Kecamatan Sangasanga bisa memakan waktu setengah jam. Namun, saat ini bisa ditempuh dalam waktu 10 sampai 15 menit.
“Itu sangat terasa sekali bagi kami yang sering bolak-balik,” katanya.
Selain infrastruktur, warga juga merasakan adanya bantuan untuk kegiatan masyarakat dan organisasi di tingkat kelurahan.
“Banyak yang sudah kami rasakan perubahannya. Bantuan untuk organisasi juga ada,” tambahnya.
Harapan pun disampaikan agar perhatian tersebut terus berlanjut ke depan.
“Semoga beliau semakin sukses, semakin merakyat lagi, dan kami akan terus mendukung. Kami juga tidak akan melupakan apa yang sudah beliau lakukan,” tutupnya.
Tanpa skenario, film ini merangkum potongan perjalanan Rahmat selama lebih dari satu tahun menjabat. Mulai dari kunjungan ke wilayah terpencil, mendengar keluhan warga, hingga upaya memperjuangkan kebutuhan dasar masyarakat.
Di akhir pemutaran, suasana hangat tetap terasa. Warga tidak hanya pulang dengan hiburan, tetapi juga dengan rasa memiliki—bahwa cerita mereka penting, dan suara mereka layak diperjuangkan.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





