Gaya Santai Isran Noor di Peringatan Milad Sultan Kutai Ke-75 Tahun

Foto: Isran Noor yang turut hadir dalam acara Kaseh Selamat ke-75 Sultan Kutai Kartanegara, Senin (9/2/2026)

Akupedia.id, Kutai Kartanegara – Peringatan Kaseh Selamat ke-75 tahun Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, Sultan Aji Muhammad Arifin, di Kedaton Kesultanan Kutai, Senin (9/2/2026), menghadirkan suasana adat yang kental dan penuh makna.

Di tengah prosesi budaya tersebut, tampak satu sosok yang menyatu dengan atmosfer acara. Ia adalah Isran Noor, mantan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) yang akrab disapa Kaik Isran.

Berbalut kemeja putih sederhana dan songkok khas Kesultanan, Isran hadir bukan sekadar sebagai tamu undangan, melainkan sebagai figur yang benar-benar menikmati setiap rangkaian prosesi adat.

Gaya khasnya tetap terasa—santai, lugas, dan penuh keakraban. Sesekali, candaan ringan yang ia lontarkan membuat suasana semakin hidup dan cair.

Baca juga  Jadwal Tanam Padi di Kukar Dipercepat untuk Antisipasi Cuaca Ekstreme

Ia duduk bersama sejumlah tokoh penting lainnya, di antaranya Sekretaris Daerah Kabupaten Kukar Sunggono, mantan Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi, serta mantan Bupati Kukar Edy Damansyah, menyatu dalam suasana kebersamaan lintas generasi.

Meski dikenal dengan gaya komunikasinya yang ringan, ketika berbicara tentang kesultanan, raut wajah Isran berubah lebih serius dan penuh hormat. Baginya, Sultan dan institusi kesultanan hari ini bukan lagi soal kekuasaan atau struktur formal negara, melainkan identitas budaya bangsa yang lahir dari sejarah panjang peradaban Nusantara.

“Kesultanan itu warisan budaya. Negara ini berdiri juga dari sejarah kerajaan-kerajaan, dan itu harus dijaga, harus dipelihara,” ujarnya.

Baca juga  Gubernur Kaltim Isran Noor, Lantik 14 Pejabat Baru Eselon II

Kedekatan Isran dengan suasana rakyat kembali terlihat saat prosesi pemotongan tumpeng berlangsung. Dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya, ia menerima tumpeng kedua dari Sultan, setelah Ratu Sri Asih.

Namun, momen sakral itu tetap ia balut dengan candaan khasnya.
“Ini tumpeng yang keberapa sebenarnya? Katanya kedua, tapi saya juga nggak tahu keberapa,” katanya sambil tertawa kecil.

Di balik gurauan itu, tersimpan penghormatan yang tegas. Isran menyebut Sultan sebagai tokoh sentral kebudayaan dari salah satu kerajaan tertua di republik ini—sebuah warisan sejarah yang harus dijaga martabatnya.

“Saya menghormati beliau sebagai tokoh budaya. Kalau orang lain mau bagaimana, itu urusan mereka. Tapi kalau saya, tetap menghargai,” ujarnya lugas.

Baca juga  Mewakili Menteri Yasonna, Gubernur Isran Serahkan Remisi HUT Kemerdekaan RI Terhadap 8.630 WBP Kaltim-Kaltara

Isran juga menyinggung keterlibatannya dalam berbagai agenda kebudayaan, termasuk forum Kesultanan dan Keraton Nusantara. Baginya, kebudayaan bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan ruang perjumpaan nilai, sejarah, dan identitas yang membentuk masa depan bangsa.

Menutup pernyataannya, Isran menyampaikan optimismenya terhadap geliat budaya hari ini.
“Alhamdulillah, sekarang semua semakin berkembang. Tradisi hidup, kegiatan budaya jalan, dan kesadaran masyarakat juga makin kuat.”

Di Kedaton itu, Isran tidak hanya hadir sebagai mantan gubernur, tetapi sebagai figur yang memandang budaya bukan sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai fondasi identitas bangsa yang harus terus dijaga, membumi, dan penuh makna.

Ara

Berita Lainnya