Akupedia.id, Samarinda – Dalam tengah kampanye ASI eksklusif untuk mencegah stunting, konsumsi kental manis oleh balita dan anak di bawah 1 tahun menjadi sorotan utama. Masalah ini semakin meruncing karena label pada kemasan produk kental manis kembali menampilkan kata “susu,” yang seharusnya telah dilarang oleh BPOM melalui PerBPOM no 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.
Ketua Dewan Pimpinan Nasional Bidang Pemberdayaan Kesehatan Perempuan dan Anak Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Rusli Rusmarni, menyatakan kekhawatirannya terkait lemahnya pengawasan BPOM.
Ia menunjukkan kemasan salah satu merek kental manis yang melanggar peraturan dengan menggunakan kata “susu.”
Peraturan BPOM menyebutkan bahwa produk kental manis seharusnya menggunakan istilah “krimer” pada kemasannya. Namun, Rusmarni menyoroti adanya kata “susu” pada label kemasan, yang dapat menyesatkan masyarakat.
Dokter anak dari RS Mayapada, dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A., juga menyayangkan fenomena sulitnya mengubah kebiasaan konsumsi kental manis di masyarakat.
“Informasi tanpa filter di media sosial turut memperparah situasi ini, dengan contoh ibu-ibu memberikan kental manis kepada bayi yang belum genap satu bulan,” katanya.
Meski isu kental manis menjadi perhatian publik, Penata Kependudukan dan KB dari BKKBN, Maria Gayatri, mengakui bahwa hal ini jarang dibahas di BKKBN.
“Fokus pemerintah lebih terarah pada kampanye pemberian ASI eksklusif untuk mencegah stunting,” sambungnya.
Para aktivis, seperti Yuli Supriati dari Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), mengkritik bahwa masalah kental manis seringkali tidak menjadi prioritas. Mereka menilai bahwa kampanye anti-stunting cenderung menyalahkan ibu tanpa mempertimbangkan akar persoalan ekonomi keluarga.
“Isu konsumsi kental manis oleh anak menjadi kompleks, melibatkan pelanggaran label, lemahnya pengawasan, dan kurangnya edukasi kesehatan di masyarakat,” imbuhnya.
Sementara kampanye ASI eksklusif terus diupayakan, tantangan terkait konsumsi kental manis pada anak tetap menjadi fokus perdebatan.
Tim Redaksi Akupedia.id