Tekan Enter untuk mencari

Tantangan Lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Era Digital yang Kian Bising

Oleh: Yusuf Supriyanto Arifin (Alumnus UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda)

Samarinda – Lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) hari ini memasuki dunia yang jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Ruang komunikasi tidak lagi didominasi media konvensional, melainkan ekosistem digital yang hiruk pikuk, cepat berubah, dan penuh konten bersaing satu sama lain. Namun justru di tengah kebisingan inilah, lulusan KPI memiliki peluang dan tanggung jawab yang semakin besar: menghadirkan komunikasi yang mencerahkan, beretika, dan relevan.

Media sosial memberi ruang bagi siapa saja untuk menjadi penyampai pesan, tetapi tidak semua pesan membawa nilai kebenaran ataupun dampak positif. Misinformasi, ujaran kebencian, dan konten sensasional tumbuh subur demi trafik dan perhatian. Fenomena ini menuntut lulusan KPI untuk tampil, bukan sekadar sebagai komunikator terampil, tetapi juga sebagai penjaga etika komunikasi yang berlandaskan nilai-nilai Islam yang humanis dan inklusif.

Kekuatan lulusan KPI sebenarnya terletak pada keunikan kompetensinya, menguasai teknik komunikasi modern sekaligus memahami karakter pesan yang menyejukkan dan membangun. Di saat dunia digital didorong oleh kecepatan, lulusan KPI diharapkan mampu menawarkan kedalaman. Ketika banyak orang menilai komunikasi hanya soal viral, lulusan KPI berperan menunjukkan bahwa komunikasi yang baik adalah yang mampu mengedukasi, memberi perspektif, dan memperkuat nilai kemanusiaan.

Saat ini, industri media dan konten membutuhkan figur-figur yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki kepekaan moral. Jurnalisme dakwah, konten edukasi islami, podcast pencerahan, public speaking berbasis nilai, hingga literasi digital beretika adalah ruang-ruang yang dapat diisi oleh lulusan KPI. Dengan kemampuan teknis seperti menulis naskah, produksi konten audiovisual, komunikasi strategis, hingga manajemen media, lulusan KPI memiliki bekal kuat untuk bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif.

Namun demikian, tantangan besar tetap berada di depan mata. Lulusan KPI perlu melek teknologi dan terus memperbarui kemampuan. Menyampaikan pesan kebaikan tanpa memahami algoritma media sosial, SEO, desain, atau data analytics akan membuat pesan kehilangan jangkauan. Maka, perpaduan antara nilai moral dan kecakapan digital harus berjalan beriringan.

Selain itu, lulusan KPI juga memegang peran sosial. Mereka bukan hanya bagian dari industri komunikasi, tetapi juga agen literasi yang dapat membantu masyarakat memahami cara bermedia yang sehat dan bertanggung jawab. Di tengah isu polarisasi, intoleransi, dan banjir informasi, kehadiran komunikator yang santun dan bijak menjadi kebutuhan mendesak.

Pada akhirnya, masa depan lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam berada di tangan mereka sendiri. Dunia digital memberi panggung luas tetapi panggung itu harus diisi dengan kualitas, integritas, dan pesan yang menguatkan. Inilah saatnya lulusan KPI menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan, tetapi juga tentang mengarahkan, menenangkan, dan menginspirasi.

Dengan bekal ilmu yang diperoleh, mereka memiliki peluang bukan hanya untuk sukses secara individu, tetapi juga membawa perubahan positif dalam ekosistem komunikasi umat dan bangsa.(*)

*Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi akupedia.id

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini