Tekan Enter untuk mencari

Senja, Takjil, dan Cerita di Bazaar Ramadan Tenggarong

Foto: Suasana tenant Bazar Ramadan yang penuh dengan pengunjung.

Akupedia.id, Tenggarong – Sore di Tenggarong terasa berbeda. Langit mulai meredup, angin pelan berhembus, dan aroma gorengan serta minuman manis bercampur di udara. Di kawasan bazaar Ramadan, langkah-langkah kecil pengunjung berpadu dengan suara tawar-menawar dan tawa ringan menjelang waktu berbuka.

Rindiani, remaja asal Tenggarong Seberang, berjalan pelan menyusuri deretan tenant. Ini adalah kali pertamanya datang ke bazaar Ramadan tahun ini. Meski sebelumnya ia sudah sering berkeliling ke berbagai bazaar, suasana di sini menurutnya terasa lebih nyaman.

“Lebih rapi, lebih tertata. Nggak ganggu jalan, jadi kita bisa santai lihat-lihat dulu,” ujarnya sambil menengok ke kanan dan kiri, memperhatikan deretan makanan yang tersusun rapi.

Ia membandingkan suasana bazaar di Tangga Arung Square dengan bazaar Ramadan di Masjid Agung Sultan Aji Muhammad Sulaiman tahun lalu. Menurutnya, konsep tahun ini terasa lebih lapang, lebih lega, dan membuat pengunjung tidak terburu-buru. Ada ruang untuk sekadar berjalan, melihat, memilih, lalu memutuskan.

Di sepanjang lorong bazaar, pilihan makanan seolah tak ada habisnya. Es cappuccino cincau, telur gulung, aneka gorengan, sempol, pentol raksasa, ubi ungu lumer, puding, minuman jeruk segar, hingga buah-buahan tersaji berdampingan. Semua tampak menggoda, semua seolah memanggil untuk dibawa pulang sebagai menu berbuka.

“Lengkap banget. Mau yang manis ada, asin ada, minuman segar juga banyak. Cocok buat buka puasa,” katanya.

Soal harga, ia tak merasa keberatan. Baginya, porsi dan rasa sebanding dengan yang dibayar. “Masih sesuai, worth it,” ucapnya singkat, sambil tersenyum.

Di sudut lain, pengunjung yang baru pulang sekolah juga menikmati suasana yang sama. Ia menyebut tata letak bazaar yang lurus dan lebar membuat orang betah berkeliling. Tak ada desakan, tak ada kesan sempit. Semua mengalir pelan, seperti ritme sore Ramadan itu sendiri.

Bazaar ini bukan sekadar tempat jual beli takjil. Ia menjadi ruang temu—antara lelah setelah bekerja, tawa remaja yang masih sekolah, obrolan teman sebaya, dan langkah-langkah kecil yang mencari menu berbuka.

Di antara cahaya senja dan lampu tenant yang mulai menyala, bazaar Ramadan di Tenggarong menjelma menjadi potret kecil kebersamaan: sederhana, hangat, dan penuh rasa.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini