Tekan Enter untuk mencari

Rupiah Tertekan, Namun Fondasi Ekonomi Indonesia Dinilai Tetap Kuat

Ilustrasi uang rupiah, bansos, THR. (Photo by Defrino Maasy on Pexels)

Akupedia.id – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi belum dinilai cukup kuat untuk mengubah arah kebijakan moneter Bank Indonesia. BRI Danareksa Sekuritas memandang risiko kenaikan suku bunga acuan masih relatif rendah, seiring kondisi likuiditas domestik yang stabil serta efektivitas bauran kebijakan bank sentral dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional.

Dalam laporan Macro Strategy terbarunya, BRI Danareksa menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sejak awal 2026 lebih mencerminkan proses penyesuaian yang berlangsung bertahap, bukan tekanan pasar yang bersifat ekstrem atau tidak terkendali. Secara year to date, rupiah melemah sekitar 0,7 persen dan sempat berada di kisaran Rp16.950 per dolar AS. Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh penguatan dolar AS secara global serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik di berbagai kawasan.

Menurut analis BRI Danareksa, kondisi tersebut belum cukup menjadi dasar bagi Bank Indonesia untuk segera menaikkan suku bunga. Penilaian itu didasarkan pada dinamika nilai tukar yang masih dalam batas wajar, likuiditas perbankan yang tetap terjaga, serta pola respons kebijakan moneter yang selama ini cenderung terukur.

Kenaikan imbal hasil Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang terjadi belakangan juga tidak diartikan sebagai sinyal pengetatan kebijakan. BRI Danareksa menilai pergerakan yield SRBI lebih merupakan langkah kalibrasi likuiditas jangka pendek, guna menyesuaikan kondisi risiko pasar dan posisi pelaku pasar, bukan perubahan arah kebijakan menuju sikap yang lebih ketat.

Dari sisi fundamental domestik, kinerja perbankan menunjukkan perbaikan yang cukup positif. Pertumbuhan kredit pada Desember 2025 tercatat mencapai 9,69 persen secara tahunan, meningkat signifikan dari 7,74 persen pada bulan sebelumnya. Angka ini menunjukkan transmisi kebijakan moneter masih berjalan efektif serta mendukung aktivitas ekonomi riil.

Penyesuaian volume lelang SRBI, menurut laporan tersebut, dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara penyerapan likuiditas dan dukungan terhadap ekspansi kredit. Langkah ini dipandang sebagai bentuk fine tuning kebijakan, bukan kebijakan pengetatan yang agresif.

Bank Indonesia dinilai tetap menempatkan stabilitas sebagai prioritas, tanpa mengesampingkan kebutuhan mendorong pertumbuhan. Target pertumbuhan kredit tahun 2026 berada pada kisaran 8 hingga 12 persen, didukung berbagai instrumen kebijakan, mulai dari intervensi nilai tukar di pasar spot, penggunaan instrumen DNDF, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Kenaikan suku bunga, menurut pandangan BRI Danareksa, baru akan dipertimbangkan apabila terjadi tekanan nilai tukar yang bersifat persisten dan tidak teratur, atau lonjakan inflasi yang signifikan. Hingga saat ini, kedua risiko tersebut dinilai belum muncul secara nyata.

Dengan cadangan devisa Indonesia yang masih tinggi, yakni sekitar USD156,5 miliar, serta tekanan dolar AS yang mulai mereda, ruang bagi stabilisasi ekonomi dinilai masih cukup luas. Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa Indonesia memasuki 2026 dengan fondasi ekonomi yang relatif solid, meski dihadapkan pada dinamika global yang menantang.

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini