Korban Pencabulan Pesantren di Kukar Hadapi Luka Psikologis dan Stigma Masyarakat

Foto: Wali korban pencabulan di Pondok Pesantren di Kukar.

Akupedia.id, Tenggarong – Kasus pencabulan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) meninggalkan dampak serius terhadap kondisi psikologis para korban. Peristiwa tersebut tidak hanya melukai anak-anak secara fisik dan mental, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial mereka hingga saat ini.

Salah satu wali korban mengungkapkan, sejak kejadian tersebut, perubahan perilaku anak terlihat sangat jelas. Sejumlah korban menjadi lebih pendiam, mudah cemas, emosi tidak stabil, dan kehilangan rasa aman.

“Anak-anak perlakuan mereka juga sudah tidak seperti biasanya, emosi tidak terkendali, disentuh saja tidak mau, bahkan ada yang tidak berani ketemu dengan orang asing,” ujarnya.

Baca juga  Loa Janan Ulu Prioritaskan Normalisasi Sungai Pasca Banjir Besar

Selain trauma psikologis, tekanan juga sempat dirasakan keluarga korban di awal terungkapnya kasus. Kehadiran pihak tertentu ke rumah korban membuat anak semakin merasa takut dan tertekan, sehingga memperburuk kondisi mental yang sedang dalam proses pemulihan.

“Sempat ada ancaman dan kami memang ada pegang buktinya, dia juga datang ke rumah datang ke rumah sehingga anak kami itu merasa terintimidasi dan takut,”

Baca juga  Hadiri Musrembang Sangasanga: Rahmat Dermawan Paparkan Prioritas Pembangunan Kedepan

Dampak sosial juga menjadi persoalan yang tidak kalah berat. Wali korban menyebut masih adanya stigma di lingkungan sekitar yang memandang korban sebagai aib.

Bahkan, salah satu korban mengalami penolakan dari sekolah karena adanya anggapan keliru bahwa kasus tersebut dapat memberikan “pengaruh buruk” atau dianggap sebagai sesuatu yang menular.

“Bukan hanya dari orang sekitar, bahkan dari keluarga dekat sendiri ada yang menolak untuk berinteraksi dengan korban,”

Situasi tersebut dinilai semakin memperberat beban korban yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan dukungan penuh. Menurut wali korban, anak-anak yang berani berbicara justru patut diapresiasi karena telah membuka jalan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Baca juga  BPBD Kukar Ingatkan Warga Tingkatkan Kesiapsiagaan: Potensi Banjir dan Longsor Meningkat di Puncak Musim Hujan

Keluarga korban berharap seluruh pihak, termasuk masyarakat dan lembaga pendidikan, dapat lebih bijak dan berpihak pada kepentingan terbaik anak. Dukungan lingkungan dinilai sangat penting agar para korban dapat pulih dan kembali menjalani kehidupan secara normal tanpa rasa takut dan stigma.

“Mudah-mudahan masyarakat bisa lebih bijak.
Anak-anak ini pahlawan, berjuang, agar tidak ada lagi korban-korban yang lain,” pungkasnya.

(Ara)

Berita Lainnya