Akupedia.id, Tenggarong – Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan seluruh jamaah asal Kukar yang saat ini menjalankan ibadah umrah di Arab Saudi dalam kondisi aman dan belum mengalami kendala berarti, meskipun eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah terus meningkat.
Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat–Israel dengan Iran telah berdampak pada penutupan sejumlah ruang udara dan bandara di beberapa negara Timur Tengah. Situasi ini menjadi perhatian masyarakat, mengingat banyak jamaah Indonesia, termasuk dari Kukar, yang masih berada di Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kukar, Norjali, menyampaikan bahwa hingga saat ini seluruh jamaah asal Kukar masih berada di Arab Saudi dan belum ada yang dijadwalkan pulang.
“Untuk jamaah Kukar, saat ini masih di sana semua. Belum ada yang pulang dan kondisinya aman,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (2/3/3036).
Ia menjelaskan bahwa jumlah jamaah yang berada di Arab Saudi belum dapat dipastikan secara rinci karena belum adanya laporan resmi dari seluruh travel umrah.
“Data pastinya belum ada, karena laporan dari travel belum masuk semua. Informasi yang ada baru sebatas komunikasi di grup travel,” katanya.
Menurut Norjali, masa tinggal jamaah berbeda-beda tergantung paket umrah yang diambil, mulai dari 12 hari, 17 hari, hingga satu bulan. Sebagian besar jamaah dijadwalkan pulang setelah 17 Ramadan atau Nuzulul Quran, sehingga hingga saat ini masih banyak jamaah Kukar yang berada di Tanah Suci.
Pihaknya juga memastikan bahwa kondisi jamaah terus dipantau melalui koordinasi dengan travel umrah.
“Kami terus komunikasi dengan pihak travel untuk memantau keberadaan jamaah. Untuk saat ini, semuanya aman dan tidak ada kendala ibadah,” tegasnya.
Terkait situasi penerbangan, Norjali menyebutkan bahwa gangguan operasional bandara belum berdampak langsung pada wilayah suci. Namun surat peringatan sudah dikeluarkan oleh otoritas bandara.
“Yang terdampak baru di wilayah Dubai. Untuk Jeddah dan Madinah masih aman. Bandara King Abdulaziz Jeddah juga masih beroperasi,” jelasnya.
Dari sisi pemerintah pusat, telah ada himbauan resmi terkait pemantauan jamaah Indonesia di luar negeri. Koordinasi juga dilakukan melalui Konsulat Jenderal RI di Arab Saudi. Jika terjadi keterlambatan kepulangan akibat gangguan penerbangan, maka skema penanganan akan menjadi tanggung jawab pemerintah melalui perwakilan resmi di Arab Saudi.
Lebih lanjut, Norjali menjelaskan bahwa sebagai langkah antisipasi, keberangkatan jamaah baru sementara ditahan, khususnya bagi jamaah yang menggunakan jalur transit internasional seperti Singapura, Malaysia, dan Qatar.
Sejumlah laporan nasional juga menyebutkan adanya jamaah Indonesia yang tertahan di negara transit akibat penutupan jalur penerbangan dan pengaturan ulang rute maskapai.
Untuk jamaah asal Kukar sendiri, Norjali menyebutkan bahwa rombongan terakhir telah diberangkatkan pada Kamis 26 Februari 2026 lalu dan seluruhnya sudah berada di Arab Saudi. Jumlah jamaah binaan dari Kukar diperkirakan sekitar 60 orang, di luar jamaah dari travel lain yang tidak melalui pembinaan langsung Kemenhaj Kukar.
“Yang kami bina terakhir sudah berangkat Kamis lalu. Semua sudah sampai di sana dan dalam kondisi baik,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat dan keluarga jamaah untuk tetap tenang serta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas sumbernya.
“Kami minta masyarakat tetap tenang, jangan terprovokasi isu-isu yang belum pasti, dan percayakan penanganannya kepada pemerintah,” pungkasnya.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





