Akupedia.id – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin waktu setempat atau Selasa (20/1/2026) waktu Jakarta. Kenaikan ini melanjutkan tren positif dari sesi sebelumnya, dipicu oleh perkembangan situasi geopolitik di Iran serta dinamika pasokan global yang terus menjadi perhatian pelaku pasar energi.
Mengutip laporan CNBC, harga minyak mentah Brent tercatat berada di level USD 64,19 per barel, naik tipis 6 sen atau sekitar 0,09 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Februari juga menguat 9 sen atau sekitar 0,15 persen ke posisi USD 59,53 per barel.
Penguatan harga minyak ini tidak terlepas dari meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah. Iran, salah satu produsen minyak utama dunia, dilaporkan melakukan tindakan keras terhadap gelombang protes domestik yang dipicu oleh tekanan ekonomi. Pemerintah Iran mengklaim bahwa langkah tegas tersebut berhasil meredam keresahan sipil yang dalam beberapa pekan terakhir meningkat tajam.
Menurut pernyataan pejabat Iran, bentrokan dalam aksi protes tersebut menewaskan ribuan orang. Situasi ini sebelumnya memicu kekhawatiran akan kemungkinan intervensi Amerika Serikat yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global, mengingat Iran merupakan produsen terbesar keempat di dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Namun, peluang intervensi AS dinilai menurun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan di media sosial yang mengindikasikan pelonggaran sikap terhadap Iran. Trump menyebut Iran telah membatalkan rencana hukuman gantung massal terhadap demonstran, meski pemerintah Iran sendiri belum secara resmi mengumumkan kebijakan tersebut.
Pernyataan tersebut dipandang pasar sebagai sinyal meredanya ketegangan geopolitik. Analis Pasar IG, Tony Sycamore, menilai penurunan risiko geopolitik ini menyebabkan pelepasan “premi risiko Iran” yang sebelumnya mendorong harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam 12 minggu terakhir.
“Penurunan ketegangan ini terjadi setelah pasar sebelumnya mengantisipasi risiko besar dari Iran. Kini, sinyal pelonggaran membuat harga bergerak lebih stabil,” ujar Sycamore.
Di sisi lain, sentimen pasar juga ditekan oleh data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah meningkat sebesar 3,4 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Januari. Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang sebelumnya memperkirakan penurunan sekitar 1,7 juta barel.
Kenaikan persediaan ini memperkuat pandangan bahwa pasokan minyak global masih relatif longgar, sehingga menahan laju kenaikan harga. Pasar saham AS sendiri tutup pada hari Senin untuk memperingati Hari Martin Luther King Jr, sehingga volume perdagangan cenderung lebih tipis.
Selain Iran, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan di Venezuela. Presiden Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil peran dalam pengelolaan industri minyak Venezuela pasca tergulingnya Nicolas Maduro. Pemerintah AS disebut bergerak cepat untuk memberikan izin produksi yang diperluas kepada Chevron, meski prospek peningkatan produksi Venezuela masih dipandang penuh ketidakpastian.
“Venezuela dan Ukraina tetap menjadi faktor risiko di latar belakang pasar,” ujar Vandana Hari, pendiri Vanda Insights. Ia memperkirakan pergerakan harga minyak akan cenderung terbatas dalam jangka pendek.
Sementara itu, dari Asia, data pemerintah China menunjukkan kapasitas pengolahan kilang minyak pada 2025 meningkat 4,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Produksi minyak mentah China juga naik 1,5 persen dari 2024, dan keduanya mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi ini menjadi faktor tambahan yang ikut memengaruhi dinamika pasar minyak global.





