Akupedia.id – Di tengah berkembangnya dunia digital dan media sosial, pola hubungan manusia juga ikut berubah. Kini, muncul istilah baru yang banyak diperbincangkan di kalangan Gen Z backburner. Istilah ini menggambarkan seseorang yang sengaja “disimpan” dalam lingkaran komunikasi, bukan sebagai prioritas, tetapi sebagai cadangan untuk kemungkinan hubungan di masa depan.
Fenomena ini menjadi sorotan karena mencerminkan cara generasi muda membangun koneksi emosional di era yang serba cepat dan instan.
Apa Arti Backburner?
Secara harfiah, kata backburner berasal dari istilah dapur, yang berarti meletakkan sesuatu di bagian belakang kompor untuk dijaga tetap hangat tetapi tidak dimasak secara aktif. Dalam konteks hubungan, istilah ini menggambarkan seseorang yang masih dijaga komunikasi dan kedekatannya, meski tidak menjadi fokus utama dalam kehidupan seseorang saat ini.
Dengan kata lain, orang tersebut bukan prioritas, tetapi tidak sepenuhnya diabaikan selalu ada kemungkinan “dipanaskan kembali” ketika hubungan utama gagal atau berakhir.
Dalam praktiknya, backburner relationship sering kali melibatkan tiga pihak: seseorang yang memiliki pasangan, orang ketiga yang disimpan sebagai “cadangan,” dan hubungan utama yang sedang dijalani. Misalnya, seseorang masih berinteraksi dengan mantan atau teman lama di media sosial, meskipun sedang menjalin hubungan dengan orang lain.
Mengapa Gen Z Banyak Melakukannya?
Generasi Z tumbuh dalam lingkungan digital yang penuh kemudahan untuk berkomunikasi. Melalui platform seperti Instagram, TikTok, atau aplikasi kencan, mereka bisa tetap terhubung dengan banyak orang tanpa harus berkomitmen secara serius.
Fleksibilitas ini membuat sebagian dari mereka merasa nyaman memiliki beberapa opsi hubungan sekaligus bukan karena tidak setia, tetapi karena takut kehilangan peluang atau merasa ingin tetap punya “rencana cadangan.”
Selain itu, banyak Gen Z yang menunda komitmen jangka panjang. Mereka lebih fokus pada pengembangan diri, karier, dan kebebasan pribadi. Akibatnya, hubungan romantis seringkali berada di posisi “backburner” tidak diputus, tapi juga tidak dijalani dengan sungguh-sungguh.
Beberapa tanda seseorang dijadikan backburner antara lain: hanya dihubungi ketika dibutuhkan, tidak ada kejelasan status, atau sering dibandingkan dengan orang lain. Jika pasangan sering membicarakan sosok lain atau menampilkan kedekatan dengan orang lain di media sosial, bisa jadi kamu sedang berada di posisi cadangan.
Dampak Emosional Backburner Relationship
Meskipun terlihat sepele, fenomena ini dapat menimbulkan dampak psikologis. Orang yang dijadikan backburner sering merasa tidak berharga, diabaikan, dan kebingungan dengan status hubungannya. Rasa tidak percaya diri dan ketidakpastian bisa tumbuh jika hubungan tidak pernah mendapatkan kepastian arah.
Bagi pelaku, kebiasaan mempertahankan banyak backburner juga bisa menjadi bumerang. Mereka mungkin merasa nyaman memiliki banyak opsi, namun sulit membangun hubungan yang benar-benar bermakna karena selalu menyisakan ruang untuk “cadangan.”
Bagaimana Menghindari Fenomena Backburner?
Kunci utama untuk keluar dari pola ini adalah komunikasi terbuka dan refleksi diri. Jujurlah terhadap diri sendiri dan pasangan: apakah hubungan yang dijalani benar-benar sehat dan saling menghargai?
Jika merasa hanya dijadikan pilihan kedua atau hubungan berjalan tanpa arah, penting untuk mengambil keputusan tegas. Hubungan yang baik harus didasarkan pada komitmen dan rasa saling menghormati, bukan sekadar menjaga kemungkinan di masa depan.
Pada akhirnya, menjadi backburner berarti menempatkan diri dalam posisi yang tidak pasti. Alih-alih menunggu kesempatan dari seseorang yang belum tentu memilihmu, lebih baik fokus pada hubungan yang memberi kepastian dan kebahagiaan sejati.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di tengah era digital yang serba cepat, nilai kesetiaan, kejelasan, dan rasa saling menghargai tetap menjadi fondasi utama dalam hubungan manusia. (Arf)